Tuesday, September 26, 2017

MENJEMPUT BIDADARI




Senyum mengembang mengiringi  gerakan spontanitas dua organ yang biasa digunakan untuk melangkah, kemudian dihadapkannya pandangan tepat ke arah timur Indonesia dengan mendorong segitiga tak beraturan yang ada pada avanza berwarna netral.  Dari arah utara berdasarkan posisinya, tersusun  benda-benda berwarna merah putih, beragam ekspresi  dan cekikikan terlontar mewarnai pagi di tanah lapang.  Ia langkahkan kakinya menuju gerbang laksana pengantin menaiki  panggung.  Dengan senyum termanisnya, ia sambut jemari laki-laki yang setiap hari mengantarnya.

Senyumnya menyadarkanku,  ternyata sejak tadi aku memperhatikan akhwat kecil itu. Wajahnya begitu polos,  matanya sayu,  senyumnya begitu bebas,  tak ketinggalan lesung pipi dikiri dan kanan wajahnya.  Jilbabnya berkibar mengalahkan bendera yang sejak tadi sudah  terbentang. Ketika mendengar suaranya, laksana mendengar panggilan yang tak mampu untuk ditolak. Sungguh merdu, dialah bidadari kecilku.  Bidadari kecil yang belum ku kenal sama sekali,  tak ku tahu namanya, apalagi alamatnya.
 
Sejak 1 bulan lalu,  hampir setiap pagi aku selalu ingin memerhatikannya. Ku datangi sekolahnya yang berada tak jauh dari rumahku. Terkadang, ingin sekali aku menghampirinya. Tapi, keinginan itu terputus ketika ia selalu menatapku  dengan pandangan aneh. Aku tak tahu, apakah dia tidak menyukaiku ataupun risih dengan keberadaanku yang selalu memperhatikannya.

Aku bergegas melangkahkan BeDe Sebelas ku yang sedari tadi telah payah untuk digerakkan. Seperti biasa,  setelah memperhatikan akhwat kecil itu,  aku selalu pergi ke suatu tempat, Kaizen namanya. Toko buku yang Aku akui sebagai perpustakaan pribadiku. Aku sudah hafal betul rak mana yang akan Aku kunjungi , ya rak 1032.  rak yang terlalu dini untuk orang  berumur 17 tahun seperti ku. Wajar jika sebagian orang menatapku dengan heran,  bahkan terkadang  mereka menatapku aneh. Tapi, selalu ku usahakan untuk  tidak memperdulikan mereka.

“Apa salahnya Aku bediri didepan rak ini? Biarin aja mereka melirikku aneh, silahkan mereka mengerjakan perkerjaan mereka dan Aku akan melakukan pekerjaanku”, hee. Hiburku untuk menyenangkan hati sendiri. 

Iringan nada instrumental  membuatku betah berada dalam ruangan yang padat dengan sederetan ilmu itu. Berjam-jam kuhabiskan waktu ku hanya untuk menyapa buku-buku favorit di rak favorit. Hingga ku hafal semua judul-judul buku yang ku anggap menarik.

“Ya Allah, izinkan aku memiliki buku ini” Pintaku sambil memandangi buku yang ada ditanganku.

“Astagfirullahal azim,  sudah pukul 10. aku harus sekolah!,  sudah telat satu jam. Uh….!

Selalu saja, tempat ini membuatku  lupa dengan sekolahku, Ya Tuhan,  maafkanlah Aku”.

Secepat kilat aku  mengambil titipan tasku  disisi kiri pintu masuk, ku temukan wajah dihiasi senyuman menyapaku.

“Ini mbak tasnya, terima kasih ya”.

“Iya,” jawabku membalas senyum yang tak kalah manisnya.

Pemuda itu adalah   pegawai Kaizen yang bertugas menjaga tas,  sepertinya  ia sudah kenal betul dengan wajah-wajah  manis sepertiku, yang setiap harinya berada ditempat itu.  Ku percepat langkahku,  hingga sampai kesekolahku yang juga tak jauh dari Kaizen.
***

Setiap pagi kusempatkan mataku melirik hal yang indah-indah, ya memandang  akhwat kecil yang selalu ku tunggu  di seberang  jalan Gerbang Sekolah Dasar. Dia begitu anggun dan polos,  membuat Aku ingin mengenalnya.  Gadis kecil itu selalu diantar oleh Ayahnya, ketika ia menyambut jemari Ayahnya dan kemudian mencium kedua pipinya,  sangat kelihatan bahwa ia sikecil yang sholeha.

“Ya tuhan,  aku ingin ia tersenyum padaku. Beberapa kali ia melihat kearahku, tapi mengapa dia sama sekali tak ingin tersenyum  denganku. Takutkah?

Tiba-tiba Teringat akan kejadian 3 tahun silam, ketika ibuku sakit parah dan aku menelepon seorang dokter. Dokter Atma namanya, ia bersedia datang kerumahku untuk memeriksa keaadaan ibu. Setelah 30 menit menunggu, ada pihak yang memberikan kabar bahwa dokter Atma mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Ibuku mengalami sakit jantung setelah mendengar kabar itu, dan akhirnya nyawanya pun tak dapat diselamatkan.

“Dinda, korbankan apa yang bisa kamu korbankan untuk orang yang telah berkorban untukmu” pesan ibuku di nafas terakhirnya.

Saat itu aku masih duduk di kelas 3 SMP, sebenarnya masih sulit menerima kejadian perginya ibu dengan dokter Atma. Dokter Atma adalah ibu dari si akhwat kecil yang sering aku perhatikan.

“Apa mungkin ia marah denganku disebabkan ibunya meninggal karena ingin menolong ibuku?”pikirku sejenak dalam lamunan.

Akhwat kecil itu langsung menuju kelasnya, dan tak pernah ketinggalan sebuah pensil  30 cm berwarna pink yang selalu ada ditangannya.  Sepertinya itu adalah mainan kesukaannya. Seperti biasa, ku langkahkan kembali kakiku menuju Toko yang selalu kusebut perpusku, apalagi  kalau bukan Kaizen.

Sekitar pukul 7 pagi Aku menantikan kedatangan si akhwat kecil, setelah itu sampai pukul 9  Aku menghabiskan  waktuku untuk bersilaturrahmi dengan rak-rak favoritku dan pada pukul 09.15 aku masuk sekolah.

“Umph, akhirnya sampai juga di Kaizen” cengirku.

Ku titipkan tasku ditempat biasa, kulangkahkan kedua organ kembarku  menuju rak 1032, rak favoritku. 

“Sepertinya, buku-buku yang sudah aku baca, mendukungku untuk menikah”, hee tawaku.

“Mbk, mbk. Maaf.  Jika mengambil buku satu-satu ya.  Bacanya sambil berdiri aja mbk, soalnya bangku ini khusus untuk orang yang lebih tua”, perintah pegawai Kaizen.

Aku tersenyum menahan malu, uh malunya  di usir lagi dari tempat ini.

    “Maaf mas, mas lulusan apa?”  Tanyaku singkat.
    “SMA mbk”, jawabnya.

“Saya sarankan, nanti jika ingin melanjut kuliah, masuk jurusan ilmu komunikasi ya. Supaya bisa  belajar periklanan dan promosi. Oke mas!” ucapku dengan nada lembut dan tak ketinggalan senyuman mautku.

Pegawai itu langsung  pergi dari hadapanku, Aku tetap melanjutkan  kegiatan membacaku dibangku itu.

“Uh!, akhirnya pergi juga luh”.
“Duh, Tunggu, tunggu!

Itu kan laki-laki yang tadi.  Napa dia bawa  teman 2 orang lagi ya? Ehem,  mendekatiku lagi. Jangan-jangan diusir lagi nih”. Celotehku mulai tak tenang.

Ku persiapkan mentalku untuk menghadapi tiga makhluk ini, mereka  semakin mendekat, aku pura-pura tidak melihat, biar kelihatan cuek gitu. Ku rencanakan kata-kata yang akan ku ucapkan. Ku yakinkan diriku dan nada  bicaraku.

“Maaf mbak,  anda tidak boleh membaca disini. Silahkan cari tempat lain, atau berdiri saja.  Bangku ini disediakan untuk orang yang lebih tua”, perintah pegawai Kaizen itu untuk kedua kalinya.

Pertanyaan sama seperti  yang kulontarkan  kepada  laki-laki yang pernah mengusirku sebelum pegawai yang satu ini datang.

“Maaf mas, mas lulusan apa?”
“S1 Komunikasi,” jawabnya.

Wadduh,  yang ini bener-bener komunikasi.  Salah sasaran, celotehku dalam hati.

Padahal aku lulus SMA aja belum. Hee

“Sepertinya dosen mas salah meluluskan mas,  ulang lagi ya S1 komunikasinya”, jawabku singkat dengan intonasi bijaksana sekaligus menyakitkan.

“Mas, pernah baca buku yang judulnya ‘Motivasi Tingkat Tinggi?’”, tanyaku kepada ketiga petugas itu.

“Belum Mbak, ada apa?”, ucap salah seorang dari mereka.

Sebenarnya aku sangat heran dengan mereka, pegawai yang benar-benar sopan dan lembut, tapi kurang pintar.  Mau-maunya ditanyain oleh ku yang kayak ginian, jangankan kuliah, lulus SMA aja belum. Komunikasi? Kebetulan sekitar 15 menit sebelum kejadian, aku membuka-buka buku ilmu komunikasi, jadi sedikit-dikit masih ada yang ingat. Sepertinya mereka mengira Aku adalah orang hebat. Pasalnya,   penampilanku pada hari itu sangat  meyakinkan.

Kugunakan rok berwarna cokelat,, jilbab cokelat dan sebuah blazer yang kukenakan, serta sebuah bunga berwarna putih yang ada dibelah kiri blezerku. Dan yang lebih meyakinkan lagi adalah sepatuku, sepatu tingkat tinggi, kalo orang-orang desaku menyebutnya haig hil.xixixi.   Ya, seperti orang-orang kelas Kakap gitu. Soalnya, jam 10 sekolahku mengadakan seminar dan kebetulan aku sebagai MC yang penampilannya mesti menarik.

Ku jelaskan kembali salah satu isi buku itu  kepada 3 pegawai Kaizen.

“Baiklah, sekarang akan saya ceritakan!”.

“Didalam buku itu ada sebuah cerita, beberapa Mahasiswa S2  yang sukses, bersilaturrahmi kerumah seorang Profesor mereka ketika mereka S1.  Profesor itu menyambut mereka  dengan ramah dan rasa senang. Ia mengeluarkan beberapa gelas yang beragam,  ada yang terbuat dari permata, mutiara, kristal, sampai gelas yang paling sederhanapun ada diantara gelas itu, macam-macam gelas telah tersedia di meja. Tak lupa pula secerek kopi hangat yang siap mendampinginya.  Mahasiswa terpesona  dengan keindahan gelas yang professor letakkan didepan mereka. Masing-masing mahasiswa mengambil gelas-gelas yang mereka sukai. Hingga tersisa satu gelas, gelas yang paling sederhana diantaranya, yaitu gelas  plastik.  Mahasiswa tadi disibukkan dan selalu memuji-muji gelas yang ada ditangan mereka masing-masing, professor mulai berbicara.

“Ketahuilah, terkadang kita hanya terpesona dan disibukkan dengan hal-hal yang menurut kita indah.  Sehingga melupakan apa yang seharusnya kita lakukan. Kalian sibuk dengan gelas-gelas ini, padahal yang akan dinikmati itu adalah kopi, tapi kalian malah menikmati gelasnya.  Hingga kopinya sendiri lupa untuk kalian minum. Begitu juga dengan kehidupan kita,  kita sering kali terlena bahkan terfokus  dengan hal-hal yang tidak penting. Padahal, yang harus kita lakukan itu bukan  yang berada didekat kita. Tapi memperbaiki apa yang ada dalam pikiran kita”.jelas professor itu.

Semua mahasiswa terdiam,  memikirkan perkataan si professor. Ternyata benar,  mereka hanya disibukkan  oleh gelas-gelas  yang indah itu. Sedangkan kopinya telah dingin, karena mereka lupa menikmatinya.

“Begitu ceritanya mas!”,

“Jadi, sekarang mas-mas ini tidak usah  berkumpul dan sibuk dengan keberadaan saya dibangku ini. Buktinya, tidak ada orang yang lebih tua berada didekat sini, belum ada juga yang akan menduduki tempat ini. Salahkah jika saya duduk disini?”, jelas ku.

“Okke, kali ini mbak benar. Sepertinya mbak sangat mengagumi Toko buku ini. Sehingga setiap hari kami harus melihat mbak tak pernah absen dari ruangan ini. Jika seperti itu, mengapa mbak tidak mencoba bekerja di disini aja? bisa lama-lama di Kaizen tanpa diusir, ya kan?”,Saran pegawai itu. 

Ketiga laki-laki itu langsung meninggalkanku. Kupikirkan kembali ucapan yang ia sarankan.

    “Ada benarnya juga ya, kenapa belum terpikirkan olehku untuk kerja ditempat yang kusebut sebagai perpus pribadiku ini?
Kuputuskan untuk pergi secepatnya dari Toko itu,  menyiapkan surat lamaran untuk bekerja di Kaizen.

    “ Ya Tuhan,  semoga lamaranku ini besok diterima”

****

Hal yang sama kulakukan seperti pagi-pagi biasanya, memperhatikan gadis kecil itu menjadi sarapan pagiku. Wajahnya begitu teduh,  membuatku banyak memuji keesaan Tuhan. Berulang kali ku ingin tersenyum kepadanya, tapi dia selalu menatapku  dengan pandangan tak terfokus.

“Ya Robb, Izinkan aku mengenalnya”

Sekarang aku akan pergi lagi keperpusku,  kali ini bukan untuk numpang duduk ataupun sekedar membaca. Aku akan melamar untuk bekerja disana. Tapi harus bertolak belakang dengan ketiga pegawai yang sempat mengusirku.  Ku putuskan untuk mengambil shif sore sampai malam.

Ku temukan kembali tulisan yang terpajang  besar  dan tinggi, “KAIZEN”.

    “Ternyata aku sudah sampai tujuan”

Kupandangi semua benda yang  berada dalam ruang itu,  ku sembunyikan wajah manisku dari ketiga pegawai yang sempat mengusirku. Ku temukan sebuah ruangan di pojok  kiri Kaizen yang bertuliskan “KANTOR”. Ku goyangkan jari  kananku sampai papan yang dihadapanku berbunyi serta diiringi dengan salam, ku dorong pintu  dan kemudian kucari orang yang kelihatan paling bijaksana dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut.

    “Selamat pagi Pak”, sapaku dengan ramah

Ku perkenalkan  diriku, kujelaskan  maksud kedatanganku serta kuserahkan  map berwarna merah yang sejak tadi berada ditanganku. Orang yang menggunakan jas hitam itu membaca dan memerhatikan surat lamaran buatanku, buatan anak SMA. Sesekali beliau  mengangguk dan tersenyum.

    “Sore nanti, kamu silahkan langsung bekerja”, pintanya
    “Yang benar Pak?, Saya diterima disini? Tanyaku dengan meyakinkan kembali keputusan apa yang akan disampaikan laki-laki setengah baya itu

“Hemph,,,,,Menurutmu?”.jawabnya
“Alhamdulillah, akhirnya setiap hari aku akan berada diperpusku ini. Takkan ada lagi ada orang yang berani mengusirku.
HORE….!” Teriakku dalam hati.
“Terima kasih ya Pak, saya permisi dulu”.

Kulalui rak-rak yang selalu setia menopang buku-buku yang berbaris dengan tertib, kulayangkan senyum mautku keberapa rak yang menantang mataku untuk melihatnya. Ku fokuskan penglihatan dan senyumku tepat pada rak 1032, rak favoritku.

    “Permisi mas”, sapaku dengan pegawai yang menjaga pintu masuknya.
Ingin sekali rasanya aku menjerit “Aku Akan Bekerjaaaaaaaa..!!”

Mataku tiba-tiba terhenti pada suatu arah,  Toko Optik. Toko itu mengalihkan pandanganku,  bukan karena ada gambar Afgan ataupun ada gambar Jihoo. Tapi, ada  si Akhwat kecil  yang kusebut sebagai Bidadari Kecilku.  Ia duduk sendiri di sebelah  kanan depan receptionis optic, menunggu sang Ayah yang sedang berbicara dengan ahli mata.  Pemandangan yang indah sekali,  ingin rasanya duduk disamping dan mengobrol dengannya. Membalas senyumnya, menyapanya, bahkan aku ingin sekali  berduaan dengannya. Tapi, mengapa ia tak pernah melihatku dan kemudian tersenyum padaku? Apakah dia memang tidak tahu?

“Tuhan….
Dekatkanlah aku dengannya karena-Mu”.

Seperti hari-hari sebelumnya, aku hanya bisa  menikmati keindahan  lewat mataku dengan memandangnya. Rasa syukur selalu terlontar karena aku dikarunia mata, hingga aku dapat melihat bidadari kecil yang luar biasa.  Tak terhitung lagi berapa kali aku meminta Allah mengizinkan  ia membalas senyumku.

Berulang kali  ku ambil potretnya, sampai sudah satu album koleksiku dalam lemari.  Dia benar-benar si kecil terindah yang pernah aku temui. Dengan jilbab lebarnya yang berkibar,  ia begitu memesona. Memandangnya selalu membuatku banyak mengucap tasbih kepada sang pencipta. Yang jauh lebih indah dari ciptaannya.

Subhanallah…

***

Gadis kecil itu kemudian pergi bersama Ayahnya. Sengaja ku ikuti  mereka agar aku tau alamatnya.  Berlahan ku gas Vario ku dibelakang mobil mereka. Avanza berhenti didepan sebuah rumah yang lumayan besar dan indah. Langsung ku lirik tulisan diatasnya “Tuna Netra”. Jantungku langsung berdegub,  mataku mulai mengalirkan cairan yang sejak lama tak ku singgahkan.

“Inikah yang membuatnya  tak pernah tersenyum kepadaku?” Tanyaku dalam hati.

Si akhwat kecil peneduh pemandanganku itu  ternyata tidak bisa melihat seperti ku.  Aku baru sadar  mengapa ia selalu membawa pensil kecil ditanganya, pensil yang dapat membantunya menunjukkan arah.

“Tuhan,,,

Wajar saja jika pandanganya melihatku dengan aneh,  karena dia memang bukan melihatku. Wajar  juga ia tak pernah tersenyum pada ku.

Ya Tuhan,,mengapa bidadari kecilku tak bisa melihat?  Aku ingin sekali menggantikan posisiku dengannya.

Sungguh, aku tak tahu  mengapa aku sangat menyayanginya.  Meskipun aku belum mengenalnya, tapi  aku merasa dekat dengannya,  walau ku tak pernah mendengarnya menyebut namaku.

Hari-hari selanjutnya, aku lebih sering mencari tahu tentangnya,  mengunjungi sekolahnya. Mendatangi tempat ia latihan berkarya di rumah tuna netra. Bahkan terkadang aku mengikuti  kemana ia pergi.

“Segitukah aku mengagumi akhwat kecil ini ya Robb?

***

Kebiasaan  setiap pagi itu sulit untuk ditinggalkan, memandang gadis kecil membuat pagi terasa semakin merekah. Ditambah juga dengan senyumnya laksana tiada beban, tanpa kusadari aku pun sudah larut dalam senyum naturalku.

“Tuhan,,,
Mengapa aku tak dapat menggunakan mataku dengan baik?”

Kulangkahkan Kaki  menuju sekolahku,  setelah sore kukunjungi lagi  perpus pribadiku. Bukan sebagai pengunjung, tapi sebagai pegawai disana.

Akhirnya, aku dapat mengunjungi semua rak-rak yang aka diruangan itu. Tak terkecuali rak 1032. Ku pandangi semua judul buku yang tersusun rapi.

“Hemph, belum ada namaku  dideretan buku ini! Akan kupastikan  April 2014 akan ada buku ku di ruangan ini”, ucapku  untuk memotivasiku.

Sungguh, aku benar-benar bosan  berada diruangan yang penuh dengan  buku karangan orang lain. Semenjak bekerja di Kaizen,   aku bertekad untuk menerbitkan sebuah buku. Ku buat novel yang menceritakan tentang si gadis  kecil yang selalu kuperhatikan. Ku beri judul “Bidadari Kecilku”. Kutulis novel itu dengan cinta,  dengan sepenuh hatiku.  Sebagai mana aku adalah seorang pengagumnya.  Tapi, baru setengah kutulis, ada berita bahwa si kecil itu akan dapat melihat jika  ada orang yang  bersedia mendonorkan kornea mata untuknya. Kuputuskan untuk  mendonorkan  kornea mataku, agar ia dapat melihat seperti  yang lainya. Hal ini ku lakukan karena teringat pesan ibuku dan pengorbanan ibunya.

    “Tuhan,
    Semoga mataku memberikan manfaat untuknya”.

***

Ruangan yang tidak terlalu besar,  dihiasi gorden hijau  disisi kanan pasien. Suasana yang dingin menambah ketegangan  dalam ruangan itu, ada yang berkomat-kamit penuh harap,  ada yang duduk sambil meletakkan  tangannya di depan mulut, bahkan ada yang sampai menggigit bibir sendiri.  Berlahan ia  membuka kasa putih yang menutup matanya.

    “Ayah, aku bisa melihat” ucapnya.

Mataku mulai berkaca, Ayah dan seisi ruangan itu pun terus memuji keesaan Allah.  Ayah langsung memelukku dengan erat.

“Ayah, mengapa aku bisa melihat”, tanyaku polos dan berulang kali
“Ada seorang wanita yang mendonorkan kornea matanya untukmu,Nak”. Jawab Ayah singkat.

“Bagaimana keadaanya Ayah”

“Ia rela menggantikan posisimu, karena dia sangat mengagumi keteguhan hatimu” tambah Ayah sambil memegang kedua pipiku yang telah basah dengan cairanku sendiri

“Ayah, kenapa untuk mendapatkan sesuatu, Ayah biarkan  orang lain kehilangan sesuatu? Ini nggak adil Ayah!”. Ucapku dengan penuh kekesalan terhadap Ayah
“Lara, Ayah tidak bermaksud untuk membuatnya kehilangan sesuatu. Tapi, ia memang benar-benar ingin membantumu”

“Ayah, aku ingin bertemu dengannya Ayah. Memeluknya dengan tangan kecilku”,

“Tentu sayang”

Setelah aku dapat melihat, aku tahu dari Ayah bahwa perempuan yang mendonorkan kornea matanya adalah orang yang sering memperhatikanku. Dan Ayah memberikan sebuah tulisan tentangku yang belum selesai, karena ia tak bisa menyelesaikan tulisan itu setelah ia tak dapat melihat.  Tulisan itu aku sambung, jika dulu ia sering memperhatikanku dan membuat tulisan tentangku. Sekarang  semuanya terbalik.  Aku yang sekarang  lebih suka memperhatikannya, dan mencoba menyambung tulisannya tentangku yang kemudian kusambung tulisanku  tentangnya.

Aku lebih suka memperhatikan wanita itu setiap pagi di depan gerbang sekolahku, kata Ayah namanya Dinda. Ternyata ia lebih indah dariku, wajahnya putih mengalahkan putihku. Senyumnya manis mengalahkan manisku. Pujian dan kekagumannya untukku belum seberapa, jika dibanding  kesholehan dan kecantikan seorang bidadari dunia yang aku lihat dalam diri Kak Dinda.

    “Tuhan, aku yakin bidadari cemburu padanya”.

Sesekali ku baca kembali setengah novel yang pernah ia buat, ia menceritakanku seakan-akan aku jauh lebih baik darinya. Padahal, seperempatnya saja  aku belum bisa dikatakan lebih baik darinya.

    “Ya Robb, aku ingin ia menjadi Ibuku. Manjadi bidadari sejatiku”

Ku coba bicarakan dengan Ayah tentang Kak Dinda, Ayah hanya tersenyum. Terkadang, aku juga menemukan Ayah yang juga sedang memandangnya setelah mengantarku ke sekolah. Aku yakin Ayah menyukai Kak Dinda.

    “Ayah, jadikan Kak Dinda sebagai Ibuku”. Pintaku tak bosan-bosannya terhadap Ayah.

Ayah berjanji padaku, bahwa ia akan menjadikan Kak Dinda sebagai Ibuku. Ku langsung menemui Kak Dinda, memohon dengannya untuk menggantikan Ibuku yang telah meninggal.

“Asslamu’alaikum,..

Kak Dinda, ini aku  Lara. Akhwat kecil yang selalu engkau perhatikan setiap pagi.  Kebiasaanmu dulu,  sekarang menjadi kebiasaanku. Bolehkah aku memelukmu?

Kak Dinda  hanya terdiam mendengar suaraku, ia tak tahan menahan butiran  yang membuatku semakin mencintainya karena Allah.

    “Sini Sayang, Kakak ingin sekali memelukmu. Mendengar suaramu menyebut nama Kakak adalah hal terindah buat Kakak”.

Kak Dinda memelukku sama seperti Ibu memelukku, aku merasakan kembali ada jiwa-jiwa Ibu di diri Kak Dinda. Aku mencoba mengapus air mata Kak Dinda, Kak Dinda seakan-akan menatapku meskipun ia sudah tak dapat melihat.

“Kak Dinda, aku sangat menyayangimu. Maukah engkau menjadi Ibuku? Aku ingin engkau menjadi Ibuku Kak. Aku tahu, Kak Dinda pasti juga menyayangiku. Kak, jadilah Bidadari yang nyata untukku dan Ayah”.

Aku mencoba terus meminta Kak Dinda untuk menjadi Ibuku, meski terkadang Kak Dinda tidak menyanggupi. Tapi aku terus memaksanya, hingga akhirnya Kak Dinda bersedia menjadi Ibuku dan menjadi istri dari Ayahku.

***

Seminggu lagi pernikahan Ayah dan Kak Dinda akan dilaksanakan. Kulihat Kak Dinda lebih cantik dari Bidadari. Yang pasti lebih cantik dariku. Wajah bersihnya selalu dihiasi dengan senyum yang dapat mebuat orang  ingin selalu memandangnya. Ya, kesempatan banyak orang memandangnya, karena Kak Dinda tak dapat melihat siapa saja yang sering menikmati kecantikannya.  Kesholehahannya sebagai wanita  menambah kecantikan luar dalam yang ia punya.

“Ibu, sebentar lagi aku akan mempunyai Ibu lagi. Yang Insya Allah bisa menjagaku dan menjaga Ayah. Kau pasti senang kan Ibu?”. Bicaraku sambil memandangi fhoto Ibu yang ada ditanganku

Seminggu itu bukan waktu yang lama bagiku jika aku berada didekat Kak Dinda.  Hari ini Kak Dinda sepertinya sangat senang sekali, kutemukan senyum Kak Dinda menentramkan hatiku. Aku yang sejak seminggu yang lalu telah berada didekat Kak Dinda tahu betul bagaimana kebiasaan Kak Dinda dalam merawat dirinya dan merawat imannya. Karena Aku selalu memperhatikan Kak Dinda.

    “Tuhan, Kak Dinda memang wanita yang luar biasa!”

Pagi ini Kak Dinda memelukku dengan erat, menyatakan semua rasa cintanya untukku.

“Lara, Kakak ingin selalu bersamamu hingga maut yang akan memisahkan kita. Kakak tak pernah bermimpi  bisa mendekatimu, bisa memelukmu, bahkan sebentar lagi  Kakak akan menjadi Ibumu. Ini adalah sebuah kado yang luar biasa Indahnya yang Allah beri untuk Kakak. Lalu, nikmat yang mana lagi yang akan Kakak dustakan?

“Kakak, Lara dan Ayah mencintaimu karena Allah, berjanjilah  untuk tidak meninggalkan Lara ya Kak”Pinta ku.

Kak Dinda selalu menangis jika telah berhasil memelukku. Dia terus mengagumiku sama seperti ia mengagumiku ketika aku buta.  Tapi rasa kagumku terhadapnya jauh lebih besar.

    Kak Dinda telah siap untuk di modifikasi oleh perias. Ia selalu melantunkan tasbih Allah dalam senyumnya ke cermin yang ada dihadapannya, meskipun ia sendiri tak bisa menikmati keindahan wajahnya. Kak Dinda sangat cantik sekali, periaspun selalu  memuji kecantikan Kak Dinda. Hingga ia selalu meruti segala keinginan Kak Dinda. Sekarang Kak Dinda sudah siap disebut pengantin.  Subhanallah, ,

    “Ayah pasti terpesona melihat kecantikan Kak Dinda, Inilah yang sebentar lagi akan berstatus sebagai Ibuku”. Pikirku dalam hati

Tapi, Kak Dinda tiba-tiba mengejutkanku.  Ia lupa dengan sholat dhuhanya. Sehingga ia meminta izin untuk melaksanakan dhuha. Itu berarti semua make up dan hiasannya harus dilepas. Sedangkan Ayah sudah dalam perjalanan. Kak Dinda terus memaksa untuk melaksanakan wudhu, semua orang yang berada dirumah itu tak ada yang bisa mencegahnya.  Termasuk juga aku, aku sama sekali tak bisa  menolak keinginan Kak Dinda.  Kak Dinda kemudian Wudhu, dan melaksakan dhuha. Aku terus memandangi Kak Dinda, dia memang wanita yang luar biasa. Disujud terakhir, Kak Dinda lama sekali.  Bahkan sampai 5 menitpun Kak Dinda belum mengangkat kepalanya. Aku mulai aneh, doa apa yang sebenarnya Kak Dinda baca. Sampai 10 menitpun Kak Dinda juga belum bangkit. Semua orang yang sedari tadi memperhatikannya mulai merasa heran, mengapa Kak Dinda lama sekali sujudnya.

    Aku memberanikan diri mendekatinya, kusentuh berlahan pundak Kak Dinda. Kak Dinda tetap diam dengan sujudnya. Kuperhatikan kembali dalam-dalam. Ya tuhan, aku tak menemukan kembali nafasnya. Aku kemudian langsung menggoyang-goyang Kak Dinda, memanggil namanya dan memanggilnya sebagai Ibu.

    “Ibu, mengapa kau pergi untuk kedua kalinya. Ayah sebantar lagi sampai bu, Ayah sebentar lagi sampai untuk menjemput kita, Kau dan Aku. Bangunlah dari sujudmu, aku ingin kau selalu menjadi Ibuku”

Kak Dinda meninggal dalam sujud terakhirnya, ketika Ayah sampai, Ayah tak sempat lagi memuji kecantikannya dan menyebutnya sebagai istri.  Tak banyak yang bisa aku lalukan, kecuali meminta Tuhan memberikan Firdaus untuknya dan meminta Tuhan menjadikannya Bidadari yang akan menantiku dan Ayah. 

***

Aku selalu menantikan Kak Dinda dalam hari-hariku, kuteruskan novel yang ia buat untukku. Ku ganti judul novelnya dengan “Menjemput Bidadari”. Dialah bidadari sejatiku. Ku persembahkan sebuah novelette yang ku buat dengan Kak Dinda. Kucoba terbitkan novelnya disebuah penerbitan seperti diawal cerita tulisan Kak Dinda.  Setelah itu novel Kak Dinda menghiasi toko buku Kaizen yang selalu ia sebut sebagai perpustakaan pribadinya. .

“Kak Dinda, engkau yang belum sempat untuk ku panggil Ibu. Novel kita telah aku terbitkan. Semoga Kakak senang, nama Kakak telah menghiasi  perpus Kakak dan rak nomor 1032 itu. Kupersembahkan novel ini sebagai  rasa cintaku kepadamu. Semoga engkau selalu menjadi bidadari, baik didunia maupun diakhirat. Terima kasih Kak untuk semuanya, termasuk juga kornea matamu”. Aku dan Ayah mencintaimu Kak.

Baca Juga Cerpen Pernikahan, Ayah Izinkan Aku Menikah

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di Blog saya, jangan lupa kembali kesini lagi ya.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Blogger Bengkulu

b
>

Kumpulan Emak Blogger