Saturday, July 29, 2017

MERRY ME


Cahaya matahari  datang menggoda Kota Rafflesia. Sudah beberapa minggu Akilla masuk sekolah setelah libur panjang, Akilla mempunyai seorang sahabat, Zahra.namanya. Zahra sosok sahabat yang sangat baik, yang selalu membantu Akilla,  baik materil maupun moril. Akilla dan Zahra dua wanita yang paling  hobby kalau ngomongin soal makhluk yang namanya cowok, tapi paling males kalau diperhatikan sama cowok. Inilah anehnya dua shohib ini.
Dimana ada zahrah disana dapat dipastikan ada Akilla. Ya, inilah kalimat yang paling pas untuk memberikan julukan terhadap kedua remaja ini. Mereka selalu berdua layaknya  orang kembar, didukung lagi dengan  wajah mereka yang lumayan mirip. Jika ingin mencari mereka, silahkan  datangi sebuah bangku dibawah pohon dipinggir lapangan. Mereka selalu menghabiskan jam istiharat mereka dengan memperhatikan dan menambah  koleksi  idola mereka.  Tak jarang mereka histeris kegirangan  jika si idola  melayangkan senyuman kepada mereka.

Tiba-tiba Zahra mendadak jatuh, saking girangnya. Jatuh karena meloncat kedalam siring kecil didepan bangku itu. Zahra kemudian dibawa oleh  akilla ke UKS. Lecetnya lumayan parah, bayangkan saja zahrah sampe nyungsep  memasuki siring yang banyak kerikilnya. Yang sekarang membuat Zahra berjalan dengan pincang

“Yah ini semua gara-gara keseringan merhatiin cowok kali”, ledek Akilla.
“Udah ah, males lagi gua merhatiin mereka. Akan ku ubah jadi mereka yang memperhatikanku. Hee, tegas Zahra sok bijak
“Tenang aja Za, kita pastikan mereka yang akan memperhatikan kita. Kita kan nggak jelek-jelek amat, pintar lagi”. Puji Akilla yang sok cantik dan berlagak sok pintar
“Oke, mulai sekarang kita tak akan memperhatikan mereka lagi. Sepakat?
“Sepatu?
“Loh??”
“Sepakat dan Setuju maksudnya”.
“Ohh, gaya luh La’, La”.
***

Hari-hari selanjutnya Akilla dan Zahra memang tak lagi memperhatikan semua idolanya, ternyata tekad mereka memang telah bulat untuk tidak mengulangi kebiasaan buruk mereka. Tapi, Si Zahra akan pindah sekolah, karena Ayahnya dipindah kerjakan ke suatu daerah. Semula Akilla tak percaya dan tak ingin berpisah dengan Zahra. Namun, Zahra mencoba meyakinkan Akilla. Hingga Akilla siap jika harus  ditinggal Zahra, si sahabat kentalnya, yang mungkin lebih kental dari susu.

 “Assalamu’alaikum” Sapa seorang teman laki-laki yang menghampiri Akilla.
“Wa’alaikumsalam….” Jawab Akilla.
“Kenapa duduk sendiri?”, Tanyanya.
“Lagi pengen sendiri aja, emang nggak boleh?” Ketus Akilla.

Kehadiran Reyhan membuat suasana hati Akilla bertambah panas, ditinggalkannya Reyhan sendiri dibawah pohon.
Hampir setengah tahun Akilla duduk di kelas XII, Akilla sudah terbiasa dengan keadaan sekolahnya, menurutnya sangat menyenangkan. Nggak tahu kenapa, Akilla menjadi dekat sama Reyhan, padahal Reyhan  makhluk yang paling Akilla benci 2 tahun yang lalu. Pada waktu itu Menurut Akilla, Reyhan merupakan sosok seseorang yang sok alim. Tapi berbeda dengan sekarang, Akilla merasa bahwa Reyhan adalah teman yang baik, yang setingkat demi setingkat menuntunnya ke jalan yang lebih baik.

Hari demi hari berlalu, sedangkan Akilla masih di posisi yang sama, dalam artian belum menjadi lebih baik. Selintas Akilla mengosongkan pikirannya, tiba-tiba ia teringat akan Reyhan, yang sudah beberapa hari ini tidak pernah datang ke kelasnya lagi. Biasanya hampir setiap hari Reyhan berada di kelas Akilla untuk menemui temannya Andra (Teman Sepersilatan Reyhan). Akilla semakin penasaran dengan tingkahnya, yang tiba-tiba saja menjauhinnya.

“Heyyy ….!!”, kejut Andra menghampiri Akilla.
“Jangan sering melamun!”, sapanya.
“Ndra, kenapa Reyhan jadi nggak pernah kelihatan lagi ya Ndra?” Tanya Akilla.
“La, kemaren Aku ke kelas IPS, aku ketemu Reyhan. Kemudian Aku mengajaknya kekelas kita, tapi sayang dia nggak mau. Katanya dia takut sama kamu. Emang dia kamu apain si La? Kok sampai segitunya?” jelas Andra.
Serrr …..!Jantung Akilla seakan berhenti berdetak, mendengarkan perkataan Andra, hati Akilla meringis menahan perih, entah angin macam apa yang datang padanya hingga Akilla merasa kepanasan.
“Salah apa aku sama Reyhan?” lirih Akilla.

Hati Akilla hancur berkeping-keping, sekarang Reyhan kelihatannya sangat membenci Akilla. Akilla tidak tahu apa yang harus dia lakukan, bahkan letak kesalahannyapun dia tak tahu. Tiba-tiba Reyhan lewat di depan Akilla, benar jangankan menyapa, senyumpun tak ada untuk Akilla.

Enam bulan telah berlalu tanpa Reyhan, semenjak kehilangan Reyhan, Akilla mencoba memperbaiki diri agar tak ada lagi orang yang tersakiti olehnya. Akilla ingin menjadi wanita yang baik, menjadikan masa lalunya sebagai pelajaran.

*****

Terik matahari sama sekali tidak bersahabat pada hari itu, butiran mutiara membasahi pipi Akilla. Hawa panas semakin menikam.

“Akillaaaaa………….!”Terdengar suara seseorang memanggilnya.
“Akillaaaaa………….!” Suara itu mencoba memanggil lagi.
Mata Akilla mencari-cari sumber suara, jantungnya kembali berdesir semakin cepat, Akilla terkejut ketika bola matanya menemukan sumber bunyi,
“Reyhan..!” Panggil Akilla dalam hati.
“Kemari….!” Pinta Reyhan.

Dengan ragu Akilla menghampiri Reyhan, sambil duduk di pinggiran masjid.

“Killa, Aku ingin membuat pengakuan terhadap sikapku selama ini. Killa, Maaf jika tiba-tiba saja aku menjauhi kamu, jujur karena aku suka sama kamu. Aku selalu berusaha untuk melupakanmu, karena aku tidak mau mempunyai rasa suka yang berlebihan, aku takut kalau aku selalu didekat kamu, aku akan merasakan hal tersebut. Aku akan selalu mempertahankan prinsipku La’, Aku Tidak Akan Pacaran. Karena di dalam islam pacaran itu tidak ada, kecuali setelah menikah”, jelas Reyhan.

Bumi seakan berhenti berputar, jampun berhenti berdetak, Akilla terdiam tanpa kata, sungguh terkejut mendengar penjelasan Reyhan. Akilla tak pernah tahu bahwa reyhan menyukainya, karena Akilla tak pernah menyukai Reyhan lebih dari teman. Akilla seakan menjadi orang tolol di antara orang-orang tolol,  yang berarti kelihatan sangat tolol sekali, tak mengerti dengan penjelasan Reyhan. Tanpa sepatah katapun, Akilla langsung meninggalkan Reyhan di pinggir  masjid itu. Sepanjang perjalanan pulang, Akilla selalu teringat dengan kata-kata Reyhan.

“Kenapa dia menyukaiku?”, Jerit Akilla dalam hati.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, entah mengapa diam-diam Akilla  menaruh kekeguman terhadap Reyhan. Reyhan rela mengorbankan perasaan demi Agamanya. Sedikit demi sedikit Akilla mulai merubah gaya hidupnya, sedikit memperpanjang jilbabnya, mempersopan bicaranya, dan melembutkan tingkahnya. Sekarang Reyhan  adalah seseorang yang paling Akilla kagumi di sekolahnya.  Lewat keteguhan hatinya membuat Akilla meniru gaya hidupnya., hingga Akilla benar-benar menyukainya. Tapi sayang, rasa itu tak sempat bertahan lama. Lewat temannya, Akilla mengetahui bahwa Reyhan Pacaran. Akilla benar-benar merasa kecewa di buatnya, tapi bukan rasa cemburu. Sungguh kejadian itu membuat rasa kekagumannya terhadap Reyhan  menjadi hilang. Hingga akhirnya, Akilla mulai menjauhin reyhan. Di tambah lagi, teman Akilla juga ada yang sangat menyukainya. Hal ini yang mengharuskan Akilla melupakan Reyhan.

******

Empat tahun berlalu setelah kelulusan SMA, Akilla telah menjadi pimpinan suatu organisasi Islam.

“Assalamu’alaikum…..”, terdengar suara di depan pintu rumah Akilla.
“Wa’alaikumsalam……”, Jawab Akilla.

Akilla langsung membuka pintu. Tapi, betapa terkejutnya Akilla, antara percaya dan tidak. Di depan matanya telah berdiri seorang pemuda yang berpakaian rapi, bersih dan tak pernah ketingggalan Al-Qur’an di sakunya. Ya, dialah Fikri, sahabat kecil Akilla yang baru pulang dari Amerika. Dalam sejenak Akilla dan Fikri langsung mengalihkan pandangannya. Sudah 8 tahun Akilla tidak bertemu Fikri. Akilla dan Fikri berbagi cerita dan pengalaman, sambil ditemani oleh Ibunya Akilla. Akilla sempat bercerita tentang Reyhan kepada Fikri. Fikri begitu simpati mendengar cerita Akilla, seakan dia mengetahui semua riwayat tentang Akilla.

“Akilla, Ibu,  Fikri pamit dulu ya, sepertinya hari sudah mulai sore”,  kata fikri.
“Ya nak Fikri, sampaikan saja salam kami kepada orang tua mu”, Jawab Ibu Akilla.
“Jazakallahu khairan katsyiran yaa akhi”,sambung Akilla.
“Syukran Ukh”,  Jawab Fikri.
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumsalam….”
Hari itu hari yang paling membahagiakan bagi Akilla, bisa bertemu dengan Fikri marupakan  suatu hal yang tak pernah disangka-sangka.

******

Malam itu angin berhembus seakan bersahabat, Pepohonan menari-nari bak mengikuti irama. Sambil menikmati Alunan Nasyid kesukaanya yang berjudul “Menanti Bidadari”, Akilla memandangi semua ciptaan Allah. Tanpa disadari butiran bening mengalir dipipi Akilla, ia mengingat kembali lantunan doa yang ia kagumi.“Dengan tangis ini Ya Allah,  Anugrahilah jiwa hambamu ini dengan hangatnya cinta-Mu dan mencintai mereka yang mencintai-Mu, dan mencintai apapun yang mendekatkan aku pada-Mu, Jadikanlah cinta-Mu lebih berharga dari pada air yang segar lagi dahaga, jika kehadiran ku di dunia membuatku harus membunuh sesama, maka kematian akan terasa lebih manis untukku, bimbinglah hatiku untuk mengingat serta mendengarkan seruan-Mu untuk kembali ke jalan yang Engkau Ridhoi”. Akilla tersentak ketika mendengar suara seekor  cicak, sambil menghapus beningan dipipi, Akilla  pergi tidur.
Setelah 3 bulan Fikri berkunjung kerumah Akilla, Akilla tak pernah bertemu Fikri lagi. Tiba-tiba Handphone Akilla bergetar, sms Fikri.

“Assalamu’alaikum  ukhti, besok  jika Ukhti mengizinkan, Insya allah ana akan datang bersilaturrahmi kerumah ukhti dikarenakan  ada yang penting”.
Akilla langsung membalas sms Fikri,
“Wa’alaikumsalam, Insya Allah ana mengizinkan”.

Narasi berlalu tanpa henti, satu hari itu bukanlah waktu yang lama, Akilla mendengar suara seseorang mengucap salam, Akilla langsung membuka pintu dan mempersilahkan Fikri masuk. Tanpa basa-basi Fikri memulai pembicaraan yang  dianggap penting itu.

“Sebelumnya Afwan Jiddan ukh, saya mau menanyakan hal ini sebenarnya dari 3 bulan yang lalu. Tapi, baru punya kesempatan dan waktu yang tepat hari ini”.
“Apakah ukhti telah ada niat untuk Menyempurnakan separoh agama Allah??” Tanya Fikri.

Narasi seakan-akan berhenti sejenak, jantung Akilla lagi-lagi berdetak semakin cepat dari biasanya, Akilla tak tahu harus menjawab apa tentang pertanyaan Fikri. Paras Akilla mulai memerah, “Apa maksud peranyaan Fikri..?? Apa mungkin dia hendak mengkhitbahku…?”Pikir Akilla .
“Ehemm…., Apakah anti mendengarkan apa yang saya tanyakan tadi?”, sentak Fikri tiba-tiba memecahkan lamunan Akilla.
“Fikri, Jika memang Allah telah  menghendaki saya menikah, akan saya laksanakan,. Wallahu Wa Rasuluhu A’lam akhi”, jelas Akilla.
“Ukhti, saya mempunyai seorang teman yang menurut saya baik, yang mungkin sesuai dengan ukhti.  saya bermaksud memperkenalkan ukhti dengannya. Tapi semua terserah ukhti. Saya ingin ukhty melupakan semua masa lalu ukhty, dan mencoba untuk memulai dari awal lagi. Insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk umatnya yang selalu mendekatkan hatinya kepada-Nya.” Jelas Fikri.
Akilla semakin terdiam,……
“Saya harus bicara dulu dengan Ummi”, tambah Akilla.

Ibu Akilla yang sedari tadi berada di samping Akilla menyerahkan semua seputusan kepada Akilla.

“Putriku, jika itu dapat membuatmu bahagia, Ibu akan merestuimu nak. Sudah saatnya kamu menikah anakku, selalulah  meminta petunjuk kepada Allah.

Insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik untukmu”, jelas Ibu nya.
Akilla mengangguk yang bertanda dia menyetujui keinginan Fikri,

“Ukhti, besok malam saya akan datang bersama teman saya dan orang tuanya, untuk memperkenalkan dia dengan kalian. Kalau begitu saya pamit dulu, Syukran atas sambutannya, Jazakumullah Ahsanal Jaza’, Assalamu’alaikum….”.
“Wa’alaikumsalam..”.

******


Fikri datangnya lebih awal, bersama teman dan orang tuanya. Akilla tetap berada di kamar. Beberapa menit kemudian, Akilla memberanikan diri untuk turun. Ibunya memanggil Akilla, dan memberikan Isyarat agar menatap ke depan. Subhanallah, Tahmid, Syahadat dan Shalawat selalu terucap di bibir Akilla. Mata Akilla mulai berkaca-kaca entah senang atau apa?

“Reyhan…….,” Panggil Akilla pelan.
Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah Akilla, sedangkan  Akilla sungguh terkejut.

“Afwan Jiddan  Ukh, atas semua kesalahan saya yang lalu, saya memang orang yang paling bodoh, tapi saya sadar semua memang salah saya. Saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya, sungguh saya di dalam kekhilafan yang besar. Sekarang saya datang kemari untuk meminang ukhti, Apakah ukhti bersedia ?”,  Tanya Reyhan.

“Saya bersyukur sekali masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan antum lagi, saya akan terima lamaran  antum dengan satu syarat, saya minta mahar surat Al-Baqarah ayat 142-252, antum harus menghafalnya dalam satu malam. Kembalilah besok”, pinta Akilla.

“Yaa ukhti, dengan senang hati saya menerima persyaratan yang anti berikan, Insya Allah saya akan kembali besok”, jawab Reyhan.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam mendengar ucapan Akilla, Akilla langsung meninggalkan ruangan tersebut.

***

Reyhan dan kedua orang tuanya telah tiba di rumah Akilla, mereka disambut dengan sopan oleh keluarga Akilla. Perasaan takut kembali menghantui Akilla. Tapi, Subhanallah  Reyhan melantunkan Ayat-ayat yang dikagumi Akilla dengan Fasih dan Thartil. Mata Akilla kembali berkaca-kaca, mengucap rasa syukur kepada Allah   tiada hentinya.  Akad nikah Akilla akan dilaksanakan 2 hari lagi, mulai dari “Walimatul Ursy” sampai walimah semuanya tanggung jawab Fikri. Fikri pernah berjanji kepada Reyhan, bahwa  jika reyhan menikah dengan  Akilla  dia yang akan bertanggung jawab untuk semuanya.

“Sungguh mulianya hati Fikri, semoga Allah membalas semua kebaikannya”, doa Akilla.

Tengah malam sebelum acara pernikahan, Akilla melaksanakan shalat malam. Sampai subuh Akilla terus memuji keesaan  Allah. Sekitar pukul 08.00 pagi, akad pernikahan akan dilaksanakan, berarti tinggal beberapa menit lagi. Jantung Akilla seakan terasa berguncang. Tapi, sampai detik itu Akilla belum menemukan kehadiran Fikri. Sekarang akad nikah segera dilaksanakan, Reyhan mulai membaca Surat yang dijadikan Akila sebagai maharnya. Fikri sampai detik itu pun belum juga kelihatan dan dia sama sekali tidak memberikan kabar kepada Akilla dan Reyhan.

Ba’da Dzuhur, Akilla  dan Reyhan mendapatkan kabar bahwa Fikri sedang dirawat di salah satu Rumah Sakit di Kota Kembang.  Badan Akilla menjadi lemas seketika, bercampur khawatir dan marah terhadap Fikri.  Air mata Akilla meleleh, Reyhan juga tak kalah sedihnya dengan Akilla.  Akilla dan Reyhan langsung meninggalkan pesta,. Sampai di Rumah Sakit,  Mereka menemukan tubuh Fikri terbaring lemah di ruang ICU. Sudah beberapa jam Fikri belum sadarkan diri. Kata dokter, dia menderita kanker otak, karena terlalu sering terkena panasnya terik matahasi dan kelelahan yang berlebihan. Mendengar hal itu Akilla menangis sejadi-jadinya, Akilla  merasa menjadi orang yang paling bersalah, karena mengurus pernikahannya sehingga Fikri jatuh sakit. Dalam sekejab Akilla tak sadarkan diri, Reyhan juga kelihatan lemas melihat fikri berada di ruang itu.

“Sungguh mulianya hatimu Fikri, dirimu rela berkorban demi kebahagian kami”, Ucap Reyhan.
Tak berapa lama kemudian, Dokter keluar dengan paras sedikit lebih cerah.
“Alhamdulillah, dengan pertolongan allah  akhirnya doa kalian dikabulkan”, kata Dokter.
“Alhamdulillah..”, bisik Akilla dan Reyhan secara bersamaan.
“Beberapa hari lagi Reyhan sudah di izinkan untuk pulang”, tambah Dokter.
Selang waktu beberapa menit, tiba seorang wanita yang menurut Akilla sudah tidak asing lagi di matanya.
“Zahra….., engkaukah itu??”, Tanya Akilla penasaran.
“Iya, ini saya Zahra”, Jawabnya.
Akilla dan Zahra sama-sama melepas Rindu.
“Mengapa anti berada di tempat ini?”, selidik Akilla.
“Kemaren sore, saya mendapat kabar mantan kekasih saya dirawat di tempat ini, makanya saya kesini”, Celetus Zahra.
“Maksudnya Suamiii?”, Tanya Akilla tambah penasaran.
“Tepat sekali, Fikri namanya”, sambung Zahra.

Akilla langsung tercengang,  antara tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.  Sedangkan Zahra tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Akilla. Zahra menceritakan semuanya kepada Akilla,  termasuk juga rencana mereka menjodohkan Reyhan dengan Akilla.  Sedang Reyhan hanya bisa tersipu malu mendengar penjelasan Zahrah kepada Akilla. tentang lamaran ayat 142-252 itu telah diberitahukan Fikri jauh sebelum lamaran dilakukan, dengan maksud Reyhan mampu untuk menghafalnya.

1 comment:

  1. wah salah buka artikel sayah wkwkk...kolom sastra soale hehe...camkohaaa

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di Blog saya, jangan lupa kembali kesini lagi ya.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Blogger Bengkulu

b
>

Kumpulan Emak Blogger