Saturday, July 29, 2017

AKHWAT KIMONO



Meskipun berlabel siswa, namun tak membuat Shinta menyukai yang namanya belajar.  Ditambah lagi harus mengerjakan  PR yang  menurutnya tidak penting. Untung ada  Anca, pacarnya Shinta.  Yang selalu mengingatkan Shinta untuk selalu mengerjakan tugas. Tapi, meskipun demikian,  Shinta mendapat peringkat 2 dikelasnya dan Anca peringkat 1. Sepasang kekasih ini,  termasuk orang yang dikagumi dan pintar disekolahnya, walaupun terkadang malas belajar.

Anca merupakan  siswa kelas 3 Mts N 1 Bengkulu, dia seorang remaja yang sangat mengagumi wanita jepang yang memakai kimono. Dia selalu bercerita  terhadap Shinta tentang kebisaaannya memperhatikan wanita jepang. Meskipun Anca laki-laki yang super cuek dengan agama, namun Anca sangat mengagumi wanita-wanita yang tertutup. Shinta adalah seorang wanita yang centil dan seksi, berpikir professional, tak pernah cemburu ataupun mengeluh dengan semua cerita  Anca tentang wanita jepang.  Menurutnya itu sebuah kebiasaan yang lumrah, tidak perlu dipermasalahkan. Shinta selalu menanggapi dengan  tanggapan yang  membuat   Anca semakin mencintainya. Pernah suatu kali  Anca  bicara dengan Shinta,

“Shin, suatu saat nanti jika aku menikah, aku ingin calon istri ku menggunakan kimono”, ucap Anca
“hmmm…..,  sedalam itukah rasa sukamu terhadap wanita yang menggunakan kimono?, Mengapa kamu menyukai kimono?”, Tanya Shinta.

“Menurut ku, kimono  bukan hanya sebuah baju, tapi  kimono mampu melindungi wanita dari beberapa hal, yang pertama :  melindungi wanita dari pandangan  liar laki-laki, kedua : wanita akan kelihatan lebih anggun, ketiga : kimono dapat melindungi wanita  dari panasnya terik matahari, yang dapat menyebabkan kulitnya menjadi kusam, dan kimono juga  dapat membuat wanita menjadi berbeda dan menjadi disegani oleh siapapun, serta masih  banyak manfaat yang lainnya”, jelas Anca.

“Bagaimana pendapatmu tentang aku?, orang yang bertolak belakang dengan wanita kimono”, Tanya sinta dengan nada  halus, sambil menatap kearah  Anca.
“Kamu adalah wanita yang sangat aku cintai, aku tidak akan menuntutmu menjadi wanita kimono,  karena aku mencintaimu apa adanya. Jika aku menginginkanmu  menjadi wanita kimono, sama saja aku mencintai diriku sendiri, jadi kamu tidak usah khawatir, jadilah dirimu sendiri dan lakukan apa yang ingin kamu lakukan”, komentar  Anca sekenanya.

Ucapan Anca membuat Shinta mengagumi sosok yang ada dihadapannya itu, Shinta semakin percaya dengan Anca. Shinta dan Anca  sudah 2 tahun berpacaran, terhitung semenjak kelas 1 SMP.

****

Udara malam begitu memanjakan organ Shinta  yang tengah melemah, hembusan halus singgah berlahan melewati helai-helai rambut bondingnya. Sekali-kali matanya larut dalam pandangan sinar bintang yang berada disudut kanan atas jendelanya, Shinta mengulas kembali memorinya tentang Anca yang menyukai wanita kimono. Tiba-tiba Shinta teringat  hari ulang tahun Anca, yaitu  tanggal 14 Februari yang kata orang sekarang bertepatan dengan hari Valentine.

“Berarti  sekitar 3 hari lagi”, bisik Shinta.

Keesokan harinya Shinta mencari sesuatu  yang istimewa untuk orang teristimewa, Shinta ingin memberikan yang special untuk Anca di ultahnya yang kali ini. 

Dua hari sebelum ulang tahun Anca, sempat terjadi obrolan singkat diantara dua remaja ini.

“Shinta, Aku ingin kita berjanji. Untuk menguji kesetiaan dan kepercayaan  kita,  Aku ingin kita mencoba  dalam waktu 2 hari,  kita tidak melakukan komunikasi, siapakah yang mampu bertahan diantara kita. Setuju kah?” Pinta Anca.

“Aku setuju, dalam waktu dua hari kita  tidak akan melakukan komunikasi. Kita akan bertemu kembali  2 hari kemudian di cafe biasa”, Komentar Shinta.

Shinta menerima penawaran  Anca, mereka memang tidak melakukan komunikasi. Shinta disibukkan dengan kado spesialnya untuk  Anca.  Janji tanpa komunikasi itu  berjalan dengan lancar. Malam mereka janjian, Shinta mempersiapkan dirinya semaksimal mungkin. 1 jam sebelum pertemuan itu, Shinta sudah mulai  siap-siap. Tepat pukul 7 malam,  Shinta pergi ke kafe tujuan. Anca telah menungggu di meja nomor 14, Shinta menghampiri Anca . betapa terkejutnya  Anca, ketika  melihat wanita yang ada hadapannya, begitu ayu dengan baju berwarna Pink berkombinasi dengan putih.  Rambut di urai dengan sedikit koncet menghiasinya,  kilauan lipglos  memperindah senyum naturalnya, semua anggota tubuh yang tertutup dengan sebuah benda yang sangat indah. Ya, Shinta menggunakan kimono dengan pesonanya. Anca  tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Aku sekarang juga menyukai kimono, semenjak hari itu”, ucap Shinta
Shinta, jika ad 7 bidadari yang kehilangan selendangnya. Dan kemudian mereka memintaku untuk bersama mereka, maka aku akan tetap disini memilih untuk bersamamu. Karena kau jauh lebih cantik dari bidadari manapun, Agar kau tak  cemburu pada bidadari, jadikanlah dirimu bidadari sejatiku. Puji Anca dengan memegang tangan Shinta dan menatap mata Shinta dalam-dalam.
Shinta diperlakukan  layaknya Cinderalla,  malam itu  berlangsung  dengan sangat berkesan.

“Shinta, kamu berhasil sayang! Kamu bisa  hidup tanpa Aku dalam dua hari, Semoga kamu bisa  hidup tanpa aku selamanya”,
    “Maksud kamu??”
“Besok, kedua orang tuaku akan pindah, dan Aku harus ikut. kita tidak bisa  bersama lagi. Hanya sampai malam ini Aku bisa menemanimu, Aku sangat senang sekali akhirya Aku bisa melihat wanita jepang dengan nyata didepanku.”,  jelas Anca

Mata  Shinta mulai berkaca, senyumnya yang manis tiba-tiba  tenggelam. Tangannya yang kuat menggenggam tangan Anca mulai melemas kemudian terlepas. Shinta langsung berlari meninggalkan Anca, ia sangat marah bercampur kecewa terhadap Anca.  Disaat Shinta sudah mulai  mempelajari tentang wanita jepang dan kimono, Anca malah memutuskan untuk meninggalkannya.

“Maaf kan Aku sayang, Aku harus meninggalkanmu. Ada hal yang harus Aku temukan, sebelum Aku menemukanmu kembali” ucap Anca dalam hati setelah kepergian Shinta dari tempat itu. 

****

    Shinta bukanlah  wanita yang bodoh dan terlena dengan perasaan,  hari-hari selanjutnya Shinta berusaha untuk melupakan Anca.  Hingga beberapa bulan kemudian, Shinta menyelesaikan studi  sekolah putih birunya. Dan dia  mulai memasuki SMA,  dan memulai kehidupan baru dengan suasana yang baru.

Shinta memutuskan sendiri untuk masuk sekolah Madrasah Aliyah.   Disekolah, kelas satu Madrasah tepatnya kelas X 1, Shinta dan 2 orang temannya termasuk gadis-gadis yang centil. yang tiap harinya Fashion saja yang dipikirkan. yah, Pulang sekolah, mampir kepasar dan beli accecoris. Itu merupakan kebisaaan SMP yang masih dibawah sampai Madrasah. Selain itu, Shinta dan kedua temannya  juga hobby mengoleksi cowok-cowok yang dianggap menarik. Misalnya, cakep, kaya, pintar, berani, bertanggung jawab, bijaksana, manis, dan lainnya. Pokoknya salah satu ciri ini ada di cowok, maka sudah termasuk makhluk koleksian  Shinta dan kawan-kawannya. Ya, beginilah cara yang Shinta anggap  paling efektif untuk mencari kesenangan tanpa harus sakit hati.  Mengoleksi nama-nama dalam draf  pilihan.

Ketika kelas 2, Shinta mengambil jurusan IPA, dan Shinta masuk di kelas XI IPA 2. Disana Shinta dan temannya terpisah. Shinta mulai mendapat suasana baru, dan untungnya Shinta  sebangku dengan seorang Akhwat.  Mulai dari itu Shinta merasa minder, karena tingkah Shinta bertolak belakang dengan teman sebangkunya. Ketika Shinta ingin mangajak Afrah ke kantin, Afrah lebih memilih untuk ke masjid sekolah. Shinta merasa setiap ajakannya adalah hal-hal yang tidak terlalu penting, lama-kelamaan Shinta  mengikuti kebiasaan Afrah. Yaitu, lebih sering ke masjid dari pada ke kantin. Yang semula Shinta  selalu  berteman dengan cowok dan selalu fashion, sedikit demi sedikit Shinta memperbaiki tingkahnya. Shinta sangat mengagumi Afrah, dia cantik, pinter, ramah, baik, jujur, sholeha lagi.

“Ya tuhan…
Apa sebenarnya yang aku banggakan? Aku tidak lebih cantik dari teman sebangku, aku tidak lebih pintar darinya. Tapi, mengapa aku lebih  memamerkan diri sendiri? karena rambutku yang luruskah? Kalau begitu, rambutnya jauh lebih indah dariku. Ia  tak segan-segan menutupinya dengan jilbab.

Lalu, apa yang pantas aku banggakan?” renung Shinta sesekali sambil memandang si afrah dari kejauhan.

Ketika semesteran,  Shinta dan Afrah  mendapat 3 besar. Dan mereka di Substitusikan ke kelas XI IPA 1, disana mayoritas  akhwat . mereka  menyambut kedatangan Shinta dan Afrah dengan  sambuatan yang ramah, “Selamat datang saudaraku”. Berada dikelas ini tambah membuat Shinta selalu berpikir berulang kali.

“Tuhan,,
Sebenarnya yang sedang Engkau rencanakan? Dan apa yang sedang Aku pertahankan? Semua accecoris? Semua cowok koleksian? Atau  semua fans-fans Ku yang selalu mengganggu gerak-gerikku?

Aku merasa Aku sangat kotor berada dikelas ini.  Apa yang harus Aku lakukan?”
Shinta mulai belajar banyak hal tentang kehidupan akhwat, melalui pemikiran Afrah dan teman-teman sekelasnya.  Mereka mengajarinya bagaimana menutup aurat  dan selalu saja membicarakan hal-hal yang bermanfaat. Dari situ Shinta sangat tertarik dengan kehidupan mereka,  dan mulai mempelajari karakter mereka masing-masing. Tapi, jilbab Shinta memang tidak panjang. Masih seperti Shinta ketika kelas 1. hanya saja, jika berpergian  keluar rumah, Shinta tetap mengenakan jilbabnya. Ketika kenaikan kelas 3, Shinta masuk 10 besar yang membuat Shinta tidak tergusur dari kelas yang sangat dikaguminya itu. Shinta mulai diajak  akhwat yang lain untuk ikut Rohis dan mulai tidak bersentuhan dengan bukan mahramnya.  padahal waktu kelas 1 dan 2 Shinta ikut Drum Band. Yang ketika tampil mesti pake celana, jilbab dimasukin dalam baju dan mesti pake make up serta tak jarang Shinta harus menari dengan gemulainya ditengah lapang sambil di iringi musik drum band modern.

Tapi Shinta bersyukur, karena ekskulnya telah berubah menjadi Rohis, dan kemudian Shinta mulai mengikuti LIQO’. Liqa adalah belajar ngaji, disini terdapat beberapa orang yang menjadi tim untuk diskusi dan dibina oleh seorang pembimbing yang disebuat Murobbi. Ketika itu juga, Shinta mendapatkan seorang murobbi yang sangat luar bisaa sekali.  Yang membuatnya mulai mencoba  untuk berprestasi kembali seperti ketika dia SMP yang selalu mendapat dukungan dari Anca. Berbeda dengan sekarang, Shinta mendapat dukungan dari seorang murobbi yang luar biasa. Shinta sedikit memperbaiki jilbabnya, hingga menutupi dada.  Karena orang-orang disekitarnya sangat melindungi diri mereka. Dan Shinta sangat ingin seperti itu.

Shinta sadar  bahwa benar  apa  yang ada di dalam Al-quran. Dan ayat inilah yang selalu menjadi metovasinya  :

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong  Allah (Agama-Nya),  niscaya Dia menolong  kamu dan menetapkan telapak kakimu” (Muhammad :7)

*****

Sebenarnya Shinta sangat ingin sekali masuk fkip, yang notabene nya langsung bisa mengajar. Tapi, Shinta malah masuk fisip. Dibilang salah jurusan tidak juga.  Malah difisip inilah membuat Shinta  sedikit mengerti  ideology dan  sama sekali tidak tertarik lagi untuk jadi seorang PNS, karena PNS bukanlah harga mati sebuah profesi.  Shinta sadari, Allah itu terkadang tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi memberikan apa yang kita butuhkan. Ternyata dunia FISIPlah yang  Shinta butuhkan, bukan FKIP. Beberapa bulan di FISIP,  membuatnya banyak pengalaman, Shinta lebih suka berorganisasi dan mempunyai banyak teman, mempunyai banyak pemikiran juga tentunya.

Di Fisip, Allah tidak membiarkan Shinta sendiri. Shinta diberikan lagi akhwat-akhwat yang sangat menjaga diri mereka dan menjaganya. Shinta masuk organisasi Islam dengan menggunakan jilbab standarnya, dan yang pastinya  Shinta memasuki semua pers kampus, mulai dari bulletin atau  majalah yang ada dikampuz biru itu. Shinta masuk majalah unib, bulletin komunikasi dan bulletin FISIP yang kebetulan dibuletin Fisip Shinta memberanikan diri untuk menjadi Pimred. Shinta sangat menyukai  menulis,  karena Shinta punya mimpi untuk mendirikan sebuah Pers Islami nantinya.

Dunia kampuz dan ukhwah mengalihkan pemikiran Shinta,  dia mulai berpikir sistematis. Shinta mulai merasakan   mempunyai keluarga baru di kampuz, yaitu IMC (Intelectual Moslem Community). Mereka semua saling menyayangi dan saling menjaga, tapi hijab tak pernah terabaikan. Semua orang di IMC rela  berkorban demi saudaranya, hal itu yang membuat Shinta sangat mengagumi aktivis dakwah.   Mereka selalu berpikir bagaimana  mengajak orang sebanyak-banyaknya  untuk  berbuat baik. Dan Shinta menyukai hal tersebut. Kembali Shinta memutuskan untuk  terus berada dalam golongan mereka. Setelah Shinta sedikit banyak mengerti tentang hakekat jilbab, dia merubah dirinya. Karena Allah tidak akan merubah suatu kaum, kecuali kaum itu yang merubahnya.  Shinta  memperpanjang jilbabnya, hingga Shinta benar-benar menutup auratnya. |

Keteguhan Shinta membuat salah seorang ikhwah tak dikenal  mengaguminya, dan mengajaknya untuk ta’aruf.

Ba’da jumat, ada yang  menghubungi Shinta.
085758xxxxx
Asslam….
Af1, ane sabar. Temannya ukhty Qiannah. Ane banyak tau tentang anti dari dia.
Shinta
Wasslam….
Iy, ada perlu  ap???
Sabar
Bolehkah ane mangajak antum untuk ta’aruf???
Shinta  tak menanggapi dengan serius perkataan orang yang tak dikenal itu,  dia menganggap itu hanya orang iseng aja.
Shinta
Ta’aruf dalam rangka apa??
Sabar
Ta’aruf yang dirhidoi Allah n menjalankan sunah Rasulullah.
Shinta tak tau mesti menjawab apa, ia masih bingung,  ini benaran atau hanya  permainan.  Shinta tak mempedulikan sms itu, dia masih bingung dalam kebingungannya.
Sabar
Beneran ane serius sama ukhty
Shinta tak berani menjawab, tak tau mau jawab apa. Ya  atau tidak pun tak tau. Kebetulan disaat itu, di samping Shinta ada ibunya yang sedang tidur-tiduran. Shinta menceritakan semuanya kepada  sang ibu tercinta.
Shinta
Buk, ada orang yang mau ngajak Shinta kenalan. Gimana??
Ibu
Kenalan lah, masa orang mau kenalan malah dicuekin.
Shinta
Maksudnya kenalan kearah yang lebih lanjut. Kalo di dalam islam, namanya itu ta’aruf buk. Biasanya  kalo orang yang udah ngajak ta’aruf,  berarti ujung-ujungnya dia ngajak nikah.
Sesederhana mungkin  Shinta menceritakan kepada ibunya, soalnya  keluarganya bisa di katakan tidak mengerti masalah ta’aruf. Termasuk juga Shinta.
Sms Sabar datang lagi,
Sabar
Sungguh ane ingin  ta’aruf sama ukhty. Bolehkah??
Masih Shinta belum  bisa menjawab,  Shinta  menunggu respon dari ibunya.
Shinta
Seandainya Shinta menikah ketika masih kuliah bagaimana buk???
Ibu
Terserah  Shinta,  kalo ibu  setuju aja.  Lagian seandainya Shinta telah menikah, ibu n ayah bisa mengurus kebun yang kemaren. Kami tidak khawatir lagi meninggalkan mu di Bengkulu, karena kamu sudah ada yang jaga.
Hidup itu adalah pilihan, jika Shinta merasa dengan menikah Shinta akan lebih bersemangat dan lebih banyak  dampak positifnya. Mengapa tidak? Jawab ibu Shinta sederhana.

Tak lama datang lagi sms Sabar yang belum bisa  Shinta jawab.
“Ane beneran serius sama ukhty”.
Sebenarnya Shinta tidak mau membalas sms Sabar. Tapi, setelah Mendengar penjelasan ibu,  air mata Shinta menetes. Ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya.  Tanpa pikir lagi, Shinta membalas sms Sabar.
“Terserah antum, ane tidak marah dan tidak masalah   jika mau ta’aruf. Selagi itu masih dijalan Allah”.

*****
Tak berapa lama kemudian, Shinta langsung menghubungi ukhty Qiannah untuk mencari tahu sedikit-sedikit tentang Sabar.
Shinta : Ukh, agama sabar gimana ukh?
Qiannah : insya Allah baik, coba aja tes ajak diskusi ukh? He
Shinta :  sifatnya gimana?
Qiannah : Dia baik,  cepat akrab sama orang dan juga humoris,  dia jurusan ushuluddin, kebetulan dia  baru menjabat sebagai senat dijurusannya,  dan dia juga adalah ketua Hima. Jadi, kami sering ketemu kalo lagi ada rapat HIMA.  Menurut ane, dia sama seperti namanya.  Kalo soal mengambil keputusan dia  tegas.
Shinta : owh….,oy ukh, tadi anti bilang dia kelahiran tahun 85. koq  sekarang baru semester 3?

Qiannah : iya, setelah SMA dia mondok dulu selama 10 tahun untuk menghafal Al-Quran,  dia Asli Jakarta, tapi berhubung  Ayahnya ada sebuah pesantren di Bengkulu, jadi untuk sementara dia disuruh Ayahnya  mengajar di Pesantren itu dan sambil kuliah. Kalo nggak salah dia juga mau pindah kuliah, tapi belum tau jadi apa nggak.
Shinta mengenal sabar melalui ukhty Qiannah, begitu juga dengan sabar. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah. Setelah malam ketiga Shinta melakukan istikharahnya, sabar mnghubungi  Shinta.
Sabar :
    Asslammua’alaikum…
Af1, Kalau ane akatin aja gimana?
    Syita :
    Maksudnya???
    Sabar :
    Maksud ane, kita akad aja. Walimahnya nggak usah terlalu rame
    Syita :
    Itu bisa menimbulkan fitnah
    Sabar :
    Anti lebih mementingkan dunia, bersihkan dulu hati anti.
Lagi-lagi syita dan sabar  berbeda pemahaman,  kedua makhluk ini  sering berdebat dengan pemahaman masing-masing.
    Syita :
Permikiran kita  berbeda, dari a-z kita berbeda. Terserah antum menganggap ane seperti apa, yang pasti keluarga ane bukan dari keluarga yang menggeluti islam.
Tapi, akhirnya Shinta memahami pemahaman   sabar dan memutuskan untuk tidak terlalu mewah.
Sabar :
Ukhty…
Anti mau mahar apa dan berapa? Biar ane bisa  siap-siap dari jauh hari.
Shinta :
Ane ada 3 permintaan mahar.
1.    Seperangkat alat sholat
2.    Sebuah baju kimono merah putih dari jepang
3.    Sebuah al-Quran beserta semua  hafalannya.
Sabar :
Ukhty…
Dimana ane cari baju kimono itu?
Hafalan? Apakah harus dilantunkan semua 30 juz?
Shinta :
Ane tidak tahu dimana ada jual baju kimono. Terserah antum mau cari dimana, yang pasti kalau di Bengkulu tidak ada. Masalah hafalan, antum tidak perlu melantunkan semuanya, cukup perwakilannya saja, juz 2 sama seperti tanggal lahir ane, yaitu tanggal 2.
Sabar :
Insaya Allah ane sanggup.
Ukhty…
Ane punya lima persyaratan untuk anti. Maukah mendengarkan??
Shinta :
Iya..
Sabar :
Yang pertama ,Anti harus ikut  ane ke Jakarta, yang kedua terima ane apa adanya,   yang ketiga cintai orang tua ane, yang keempat anti bersedia mendengarkan hafalan ane  1 juz setiap malamnya sebelum tidur, dan yang terakhir mengikuti perkataan ane, jika itu benar menurut Al-Qur’an dan sunnah.
Shinta :
Insya Allah ane sanggup, jika itu masih dalam naungan islam dan iman.
Sabar :
Apakah anti punya persyaratan lain selain mahar tadi?
Shinta :
Ada, ada beberapa persyaratan.|

Yang pertama, ane ingin seperti   Fatimah  yang dijadikan satu-satunya oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seperti Khadijah yang sangat di cintai oleh Rasulullah, seperti  sahabat-sahabat Rasulullah yang sangat menyayangi kedua orang tuanya, seperti  Najwa Shihab yang diperbolehkan oleh suaminya untuk  selalu berpendidikan dan seperti Aysah yang selalu  dipanggil khumairoh oleh Rasulullah. Dan ane tak ingin menjadi seperti Aasiyah yang disiksa oleh fir’aun karena harus terus mengikuti kata-katanya yang bertolak belakang dengan islam.

*****

Dua hari setelah terjadi percakapan itu, Shinta memberanikan diri membicarakan  tentang rencananya untuk menikah  kepada kedua orang tuanya.  Tentunya tidaklah mudah bagi Shinta untuk  memulai pembicaraan itu, Shinta harus mengumpulkan semua mentalnya dan  mempersiapkan diri tentang keputusannya.

“Ayah, bolehkah aku menikah?, Tanya Shinta polos.
“Yah, boleh donk! Masa Ayah melarangmu menikah. Tapi, kalau bisa jangan sekarang ya. Jelas ayah.
Shinta langsung terdiam dengan  mendengar kalimat ayah,  dadanya mulai deg-degkan.

    “Jika, seandainya Shinta maunya sekarang gimana yah?  Selidik Shinta lagi.
“Sebenarnya, ayah inginnya kamu menyelesaikan kuliah kamu dulu. Karena menikah itu tidak mudah sayang, ayah khawatir setelah menikah kuliahmu tidak lanjut lagi. ucap ayah
“Ayah, Shinta juga masih punya mimpi Ayah. Shinta juga masih ingin  menjadi orang sukses, tidak mungkin Shinta meninggalkan kuliah Shinta hanya karena status  Shinta  sebagai seorang istri.”
“Memangnya kamu mau menikah dengan siapa?”. Tanya ayah.
“Dengan laki-laki Jakarta Ayah”. Jawab Shinta

“Berarti setelah menikah, Shinta harus ikut dia ke Jakarta? Ayah tidak mengizinkan jika Shinta meninggalkan Ayah dan Ibu  di Bengkulu. Shinta itu anak satu-satunya  Ayah,  jika Shinta pergi siapa yang akan menemani kami di hari-hari tua, siapa yang akan  merawat kami jika kami sakit dan siapa yang akan mengurus jenazah Ayah dan Ibu jika kami meninggal? Jarak antara Bengkulu-Jakarta itu tidak dekat. Ayah khawatir nanti Shinta  menyesal, Ayah dan Ibu tidak tahu  kapan nyawa kami akan diambil. Jika Shinta memang benar-benar sudah siap untuk menikah, ajaklah calon suamimu untuk tinggal di Bengkulu saja. Tapi, jika tinggal di Jakarta Ayah tidak mengizinkan”, jelas ayah.
“Baiklah ayah, Shinta tidak ingin mendapatkan sesuatu tapi membuat ayah kehilangan sesuatu” jawab Shinta dengan  mimik lembutnya.

Setelah itu, Shinta terdiam dengan mata berkaca-kaca mendegar penjelasan ayah, “Ada benarnya juga semua perkataan ayah tadi”, bisik Shinta.

Shinta kembali menjadi ragu dengan keputusannya untuk menikah dengan sabar,  untuk kelima kalinya Shinta melakukan Istikharah. Setelah itu Shinta menghubungi sabar, dan menceritakan semua apa yang disampaikan oleh ayahnya. Sabar hanya terdiam, tidak mampu berkomentar apa-apa. Karena dia juga tidak diperbolehkan oleh Ibunya untuk meninggalkan Jakarta. Nasib Shinta dan sabar sama, sama-sama tidak diperbolehkan jika harus meninggalkan orang tua.

Shinta
“Semua keputusan ada pada Ayah ane, apapun keputusannya ane terima. Jika  memang beliau belum mengizinkan ane untuk pergi, Insya ane Ikhlas”, ucap Shinta.

***

Beberapa hari setelah percakapan Shinta dengan sabar, sabar  ditemani dengan seorang temannya  bersilaturrahmi kerumah Shinta untuk ta’aruf dengan keluarga Shinta. Shinta hanya  berani mendengar dari kamarnya saja, berharap-harap cemas. Ternyata Ayah Shinta teguh dengan keputusanya. Sabar belum diperbolehkan membawa Shinta ke Jakarta, sedangkan Sabar juga belum diperbolehkan oleh Ibunya untuk meninggalkan Jakarta.  Shinta  terus beristigfar berulang kali dikamarnya, dia berharap semoga keputusan yang diberikan Ayahnya itulah yang terbaik.

Shinta sudah tahu semua keputusan Ayahnya, Insya Allah Shinta ikhlas untuk melepas Sabar.
 “Berarti dia bukanlah jodohku”, bisik Shinta di dalam kamar sambil mengusap air matanya.

Keesokan harinya, sabar menghubungi Shinta ,
“Ukhty, afwan ane telah memberi harapan terhadap anti.  Ane tidak mampu untuk melanggar perintah  Ibu, ane juga tau anti juga tidak mampu untuk melanggar perintah Ayah. Sebenarnya ane berharap  kita jodoh, tapi jika Allah berkehendak lain Insya Allah ane ikhlas”, ucap sabar dengan nada bijaksana.
“Afwan jiddan juga, sebenarnya ane yang salah. Ane yang memberi harapan tak jelas terhadap antum. Ane  langsung meng iya kan semua persyaratan antum. Padahal dari persyaratan pertama aja ane tidak mampu untuk  melaksanakannya. Afwan jiddan untuk semuanya,  insya Allah ane juga ikhlas dengan keputusan ayah”, balas Shinta.

Sabar dan Shinta  sama-sama ikhlas dengan keputusan orang tuanya, sekarang barulah Shinta sadari ternyata jika tidak jodoh  biarpun udah didepan mata maka itu juga tidak akan bisa bersatu, bahkan sebaliknya.

*****

Hari ini jadwal Shinta menjemput Qanita di bandara, Qanita  adalah sahabat Shinta  yang tinggal di Palembang. Meskipun mereka belum pernah bertemu, namun  mereka sudah merasa begitu akrab.  Qanita lahirnya memang di Bengkulu, namun  setelah itu pindah ke Palembang.  Sekarang di Bengkulu  Qanita  tinggal dirumah pamannya untuk liburan.

Qanita ke bengkulu ternyata tidaklah sendirian, ada pamannya yang menemani dalam perjalanan.  Paman yang begitu baik dan bertanggung jawab menurut  Qanita. Setelah pesawat nomor penerbangan SJ 092 sampai,  Shinta bersiap-siap untuk menantikan kehadiran sahabat mayanya. Bagaikan orang yang telah akrab,  Shinta memeluk erat  Qanita. Padahal itu pertama kalinya mereka bertemu, namun sudah seperti bertahun-tahun. Tanpa memperdulikan pamannya, Qanita  berjalan  berdua dengan Shinta.

Shinta hanya menjemput dibandara saja, tidak  mengantarkan sampai kerumah. Karena Qanita bersama pamannya. Baru Qanita sadari bahwa pamannya sudah tidak ada lagi dibelakangnya.  Shinta pulang sebelum  Qanita memperkenalkan dengan pamannya, dikarenakan Shinta  harus mengajar sore itu.

“Ukhty, ane pulang duluan ya. Hati-hati! Unibbukifillah”, ucap Shinta.
“Sip…, hamasah. Uke”, balas Qanita dengan  menggempalkan  tangan kanannya serta diringi dengan senyuman khas yang sulit Shinta lupakan.
Kalo akhwat sudah ketemu akhwat, keluar semua deh  centilnya, tapi tetep syar’i.  dengan lambaian tangan yang menggoda, Shinta meninggalkan   Qanita di  ujung bandara Fatmawati.

Keesokan harinya  Qanita  bersilaturrahmi   kerumah Shinta, tentunya ditemani sang paman yang sangat menjaganya.
“Asslammu’alaikum….”, ucap Qanita
“Wa’alaikumsalam….”, balas Shinta
“Ukhty, kaif hal? Tanya Shinta sambil tersenyum penuh  makna.
“Bikhair cin, anti?
“Same…”, heee
“Masuk yuk, oh iya anti sama siapa kesini?”
“Sama paman ane, tuh masih dimotor”
“Oh, ajak masuk aja cin. Ane ambil minum dulu ya.

Qanita memanggil pamannya untuk  diajak masuk, Shinta sedang membuat teh  minuman di belakang untuk diberikan kepada Qanita dan pamannya.
    “Ukhty, kenalin ini paman Ane, namanya Anca”, jelas Qanita
Shinta langsung mengalihkan pandangannya terhadap laki-laki yang  disebut sebagai paman  itu oleh Qanita. Setelah dilihat-lihat, ternyata dia Anca,  pacar  Shinta ketika SMP. Anca juga terkejut,  bahwa teman  yang sering diceritakan Qanita dan seorang wanita yang berjilbab lebar itu adalah Shinta.  Sekarang Shinta sudah menjadi seorang akhwat, dan Anca juga sudah menjadi seorang ikhwah.

Tak pernah terpikir oleh Shinta, bahwa dia akan dipertemukan kembali dengan Anca. Tapi dengan suasana dan kehidupan yang berbeda, yang pasti suasana yang jauh lebih baik dari ketika mereka SMP.

****

Beberapa minggu setelah silaturrahmi itu, Qanita mengajak Shinta untuk  bersilaturrahmi dengan alam. Kemana lagi, kalo bukan pergi berpariwisata. Mereka pergi ketaman sambil memberi burung-burung yang ada ditaman itu makan.

“Ukhty, target anti untuk menikah kapan? Tanya Qanita
“Kapan jodoh nyampe aja, hee.
Ehem…ehem,,, jangan-jangan ada yang udah mau nikah ni”, ledek Shinta.
“Iy ukh, ada yang mau nikah.
Paman ane!
“Nikah sama siapa cin?”,
“Sama anti…!!! Heeeee,
“Huuuuft, dirimu.  Kasian tuh pamanmu yang selalu diomongin. Sela Shinta.
“Biarin aja, tapi mau kan? Ya, ya, ya, mau donk! Pinta  Qanita dengan rayuan mautnya.
“Kita liat aja nanti….”,

Shinta dan Qanita jika sudah ketemu bawaannya  ketawa aja, pasalnya dua makhluk ini orang-orang yang humoris.   Yang penuh dengan gurauan.
Keesokan harinya, ternyata  Qanita  kembali bersilaturrahmi kerumah Shinta. Tentunya dengan seorang paman yang sangat di sayanginya itu. Niatnya tak lain adalah untuk menanyakan jawaban terhadap pertanyaan Qanita siang kemarin.  Pertanyaan yang kesannya main-main tapi memerlukan jawaban yang serius. Shinta menjawab pertanyaan itu dengan kata “Iya”, berarti Shinta bersedia untuk menikah dengan  Anca.
orang tua Shinta setuju, soalnya Anca memang sudah menetap di bengkulu. Dan juga orang tua Shinta sudah lama kenal Anca, sejak mereka SMP ketika masih pacaran.

Qanita sangat senang dengan keputusan itu, akhirnya Qanita dapat melihat sahabat dan pamannya menikah.
Dua minggu setelah itu  mereka berencana untuk menikah, tentunya dengan pesta yang sederhana tapi   bermakna. Shinta  tak minta mahar apa-apa selain seperangkat alat shalat, beda ketika dia di khitbah Sabar.
Shinta teringat akan kata-kata Anca ketika mereka masih pacaran.

“Shin, suatu saat nanti jika Aku menikah, Aku ingin calon Istri Ku menggunakan kimono”.
Shinta memutuskan untuk memakai baju kimono  disaat pernikahannya.
Beberapa menit  sebelum akad dilaksanakan,  Shinta sangatlah merasa deg-dekan. Hingga akhirnya  akad selesai di ucapkan. Dengan doa yang tak henti, Shinta  menyambut tangan Anca, yang sekarang  telah sah menjadi suaminya.
“Ukhty, ana senang bisa melihat akhwat kimono  dengan nyata,  memujinya dan menyambut tangannya dengan senyuman. Berbahagialah wahai AKITADA”, rayu  Anca.

“AKITADA? Apa itu? Selidik  Shinta

“Akhwat Kimono Tiada Dua”, hehe
Shinta hanya bisa membalas dengan senyuman termanisnya.

“Ukhty, sebenarnya  yang ane maksud ketika SMP wanita jepang dengan kimono itu adalah seorang akhwat, tapi pada waktu itu ane tidak tau namanya apa. Berhubung pakaian mereka lebar-lebar seperti kimono jadi ane bilang aja  wanita kimono.  Ketika ane  bertemu anti kembali, ane terkejut ketika liat anti   sudah jadi akhwat. Dan itulah wanita kimono sebenarnya yang ane maksud. Bukan kimono beneran, heee”, ledek Anca terhadap istrinya yang  menikah menggunakan kimono itu.

Shinta malunya bukan main, masa orang sudah susah payah  pengembara kimono, ternyata  wanita kimono yang dia maksud ketika SMP tak lain adalah seorang akhwat.

Subhanallah.

2 comments:

  1. Crita tentang siapa nih mir...?aq baca dr awal smpe habis loh..seru jg crtanya..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di Blog saya, jangan lupa kembali kesini lagi ya.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Blogger Bengkulu

b
>

Kumpulan Emak Blogger