Top Social

AKHWAT KIMONO

Saturday, July 29, 2017


Meskipun berlabel siswa, namun tak membuat Shinta menyukai yang namanya belajar.  Ditambah lagi harus mengerjakan  PR yang  menurutnya tidak penting. Untung ada  Anca, pacarnya Shinta.  Yang selalu mengingatkan Shinta untuk selalu mengerjakan tugas. Tapi, meskipun demikian,  Shinta mendapat peringkat 2 dikelasnya dan Anca peringkat 1. Sepasang kekasih ini,  termasuk orang yang dikagumi dan pintar disekolahnya, walaupun terkadang malas belajar.

Anca merupakan  siswa kelas 3 Mts N 1 Bengkulu, dia seorang remaja yang sangat mengagumi wanita jepang yang memakai kimono. Dia selalu bercerita  terhadap Shinta tentang kebisaaannya memperhatikan wanita jepang. Meskipun Anca laki-laki yang super cuek dengan agama, namun Anca sangat mengagumi wanita-wanita yang tertutup. Shinta adalah seorang wanita yang centil dan seksi, berpikir professional, tak pernah cemburu ataupun mengeluh dengan semua cerita  Anca tentang wanita jepang.  Menurutnya itu sebuah kebiasaan yang lumrah, tidak perlu dipermasalahkan. Shinta selalu menanggapi dengan  tanggapan yang  membuat   Anca semakin mencintainya. Pernah suatu kali  Anca  bicara dengan Shinta,

“Shin, suatu saat nanti jika aku menikah, aku ingin calon istri ku menggunakan kimono”, ucap Anca
“hmmm…..,  sedalam itukah rasa sukamu terhadap wanita yang menggunakan kimono?, Mengapa kamu menyukai kimono?”, Tanya Shinta.

“Menurut ku, kimono  bukan hanya sebuah baju, tapi  kimono mampu melindungi wanita dari beberapa hal, yang pertama :  melindungi wanita dari pandangan  liar laki-laki, kedua : wanita akan kelihatan lebih anggun, ketiga : kimono dapat melindungi wanita  dari panasnya terik matahari, yang dapat menyebabkan kulitnya menjadi kusam, dan kimono juga  dapat membuat wanita menjadi berbeda dan menjadi disegani oleh siapapun, serta masih  banyak manfaat yang lainnya”, jelas Anca.

“Bagaimana pendapatmu tentang aku?, orang yang bertolak belakang dengan wanita kimono”, Tanya sinta dengan nada  halus, sambil menatap kearah  Anca.
“Kamu adalah wanita yang sangat aku cintai, aku tidak akan menuntutmu menjadi wanita kimono,  karena aku mencintaimu apa adanya. Jika aku menginginkanmu  menjadi wanita kimono, sama saja aku mencintai diriku sendiri, jadi kamu tidak usah khawatir, jadilah dirimu sendiri dan lakukan apa yang ingin kamu lakukan”, komentar  Anca sekenanya.

Ucapan Anca membuat Shinta mengagumi sosok yang ada dihadapannya itu, Shinta semakin percaya dengan Anca. Shinta dan Anca  sudah 2 tahun berpacaran, terhitung semenjak kelas 1 SMP.

****

Udara malam begitu memanjakan organ Shinta  yang tengah melemah, hembusan halus singgah berlahan melewati helai-helai rambut bondingnya. Sekali-kali matanya larut dalam pandangan sinar bintang yang berada disudut kanan atas jendelanya, Shinta mengulas kembali memorinya tentang Anca yang menyukai wanita kimono. Tiba-tiba Shinta teringat  hari ulang tahun Anca, yaitu  tanggal 14 Februari yang kata orang sekarang bertepatan dengan hari Valentine.

“Berarti  sekitar 3 hari lagi”, bisik Shinta.

Keesokan harinya Shinta mencari sesuatu  yang istimewa untuk orang teristimewa, Shinta ingin memberikan yang special untuk Anca di ultahnya yang kali ini. 

Dua hari sebelum ulang tahun Anca, sempat terjadi obrolan singkat diantara dua remaja ini.

“Shinta, Aku ingin kita berjanji. Untuk menguji kesetiaan dan kepercayaan  kita,  Aku ingin kita mencoba  dalam waktu 2 hari,  kita tidak melakukan komunikasi, siapakah yang mampu bertahan diantara kita. Setuju kah?” Pinta Anca.

“Aku setuju, dalam waktu dua hari kita  tidak akan melakukan komunikasi. Kita akan bertemu kembali  2 hari kemudian di cafe biasa”, Komentar Shinta.

Shinta menerima penawaran  Anca, mereka memang tidak melakukan komunikasi. Shinta disibukkan dengan kado spesialnya untuk  Anca.  Janji tanpa komunikasi itu  berjalan dengan lancar. Malam mereka janjian, Shinta mempersiapkan dirinya semaksimal mungkin. 1 jam sebelum pertemuan itu, Shinta sudah mulai  siap-siap. Tepat pukul 7 malam,  Shinta pergi ke kafe tujuan. Anca telah menungggu di meja nomor 14, Shinta menghampiri Anca . betapa terkejutnya  Anca, ketika  melihat wanita yang ada hadapannya, begitu ayu dengan baju berwarna Pink berkombinasi dengan putih.  Rambut di urai dengan sedikit koncet menghiasinya,  kilauan lipglos  memperindah senyum naturalnya, semua anggota tubuh yang tertutup dengan sebuah benda yang sangat indah. Ya, Shinta menggunakan kimono dengan pesonanya. Anca  tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Aku sekarang juga menyukai kimono, semenjak hari itu”, ucap Shinta
Shinta, jika ad 7 bidadari yang kehilangan selendangnya. Dan kemudian mereka memintaku untuk bersama mereka, maka aku akan tetap disini memilih untuk bersamamu. Karena kau jauh lebih cantik dari bidadari manapun, Agar kau tak  cemburu pada bidadari, jadikanlah dirimu bidadari sejatiku. Puji Anca dengan memegang tangan Shinta dan menatap mata Shinta dalam-dalam.
Shinta diperlakukan  layaknya Cinderalla,  malam itu  berlangsung  dengan sangat berkesan.

“Shinta, kamu berhasil sayang! Kamu bisa  hidup tanpa Aku dalam dua hari, Semoga kamu bisa  hidup tanpa aku selamanya”,
    “Maksud kamu??”
“Besok, kedua orang tuaku akan pindah, dan Aku harus ikut. kita tidak bisa  bersama lagi. Hanya sampai malam ini Aku bisa menemanimu, Aku sangat senang sekali akhirya Aku bisa melihat wanita jepang dengan nyata didepanku.”,  jelas Anca

Mata  Shinta mulai berkaca, senyumnya yang manis tiba-tiba  tenggelam. Tangannya yang kuat menggenggam tangan Anca mulai melemas kemudian terlepas. Shinta langsung berlari meninggalkan Anca, ia sangat marah bercampur kecewa terhadap Anca.  Disaat Shinta sudah mulai  mempelajari tentang wanita jepang dan kimono, Anca malah memutuskan untuk meninggalkannya.

“Maaf kan Aku sayang, Aku harus meninggalkanmu. Ada hal yang harus Aku temukan, sebelum Aku menemukanmu kembali” ucap Anca dalam hati setelah kepergian Shinta dari tempat itu. 

****

    Shinta bukanlah  wanita yang bodoh dan terlena dengan perasaan,  hari-hari selanjutnya Shinta berusaha untuk melupakan Anca.  Hingga beberapa bulan kemudian, Shinta menyelesaikan studi  sekolah putih birunya. Dan dia  mulai memasuki SMA,  dan memulai kehidupan baru dengan suasana yang baru.

Shinta memutuskan sendiri untuk masuk sekolah Madrasah Aliyah.   Disekolah, kelas satu Madrasah tepatnya kelas X 1, Shinta dan 2 orang temannya termasuk gadis-gadis yang centil. yang tiap harinya Fashion saja yang dipikirkan. yah, Pulang sekolah, mampir kepasar dan beli accecoris. Itu merupakan kebisaaan SMP yang masih dibawah sampai Madrasah. Selain itu, Shinta dan kedua temannya  juga hobby mengoleksi cowok-cowok yang dianggap menarik. Misalnya, cakep, kaya, pintar, berani, bertanggung jawab, bijaksana, manis, dan lainnya. Pokoknya salah satu ciri ini ada di cowok, maka sudah termasuk makhluk koleksian  Shinta dan kawan-kawannya. Ya, beginilah cara yang Shinta anggap  paling efektif untuk mencari kesenangan tanpa harus sakit hati.  Mengoleksi nama-nama dalam draf  pilihan.

Ketika kelas 2, Shinta mengambil jurusan IPA, dan Shinta masuk di kelas XI IPA 2. Disana Shinta dan temannya terpisah. Shinta mulai mendapat suasana baru, dan untungnya Shinta  sebangku dengan seorang Akhwat.  Mulai dari itu Shinta merasa minder, karena tingkah Shinta bertolak belakang dengan teman sebangkunya. Ketika Shinta ingin mangajak Afrah ke kantin, Afrah lebih memilih untuk ke masjid sekolah. Shinta merasa setiap ajakannya adalah hal-hal yang tidak terlalu penting, lama-kelamaan Shinta  mengikuti kebiasaan Afrah. Yaitu, lebih sering ke masjid dari pada ke kantin. Yang semula Shinta  selalu  berteman dengan cowok dan selalu fashion, sedikit demi sedikit Shinta memperbaiki tingkahnya. Shinta sangat mengagumi Afrah, dia cantik, pinter, ramah, baik, jujur, sholeha lagi.

“Ya tuhan…
Apa sebenarnya yang aku banggakan? Aku tidak lebih cantik dari teman sebangku, aku tidak lebih pintar darinya. Tapi, mengapa aku lebih  memamerkan diri sendiri? karena rambutku yang luruskah? Kalau begitu, rambutnya jauh lebih indah dariku. Ia  tak segan-segan menutupinya dengan jilbab.

Lalu, apa yang pantas aku banggakan?” renung Shinta sesekali sambil memandang si afrah dari kejauhan.

Ketika semesteran,  Shinta dan Afrah  mendapat 3 besar. Dan mereka di Substitusikan ke kelas XI IPA 1, disana mayoritas  akhwat . mereka  menyambut kedatangan Shinta dan Afrah dengan  sambuatan yang ramah, “Selamat datang saudaraku”. Berada dikelas ini tambah membuat Shinta selalu berpikir berulang kali.

“Tuhan,,
Sebenarnya yang sedang Engkau rencanakan? Dan apa yang sedang Aku pertahankan? Semua accecoris? Semua cowok koleksian? Atau  semua fans-fans Ku yang selalu mengganggu gerak-gerikku?

Aku merasa Aku sangat kotor berada dikelas ini.  Apa yang harus Aku lakukan?”
Shinta mulai belajar banyak hal tentang kehidupan akhwat, melalui pemikiran Afrah dan teman-teman sekelasnya.  Mereka mengajarinya bagaimana menutup aurat  dan selalu saja membicarakan hal-hal yang bermanfaat. Dari situ Shinta sangat tertarik dengan kehidupan mereka,  dan mulai mempelajari karakter mereka masing-masing. Tapi, jilbab Shinta memang tidak panjang. Masih seperti Shinta ketika kelas 1. hanya saja, jika berpergian  keluar rumah, Shinta tetap mengenakan jilbabnya. Ketika kenaikan kelas 3, Shinta masuk 10 besar yang membuat Shinta tidak tergusur dari kelas yang sangat dikaguminya itu. Shinta mulai diajak  akhwat yang lain untuk ikut Rohis dan mulai tidak bersentuhan dengan bukan mahramnya.  padahal waktu kelas 1 dan 2 Shinta ikut Drum Band. Yang ketika tampil mesti pake celana, jilbab dimasukin dalam baju dan mesti pake make up serta tak jarang Shinta harus menari dengan gemulainya ditengah lapang sambil di iringi musik drum band modern.

Tapi Shinta bersyukur, karena ekskulnya telah berubah menjadi Rohis, dan kemudian Shinta mulai mengikuti LIQO’. Liqa adalah belajar ngaji, disini terdapat beberapa orang yang menjadi tim untuk diskusi dan dibina oleh seorang pembimbing yang disebuat Murobbi. Ketika itu juga, Shinta mendapatkan seorang murobbi yang sangat luar bisaa sekali.  Yang membuatnya mulai mencoba  untuk berprestasi kembali seperti ketika dia SMP yang selalu mendapat dukungan dari Anca. Berbeda dengan sekarang, Shinta mendapat dukungan dari seorang murobbi yang luar biasa. Shinta sedikit memperbaiki jilbabnya, hingga menutupi dada.  Karena orang-orang disekitarnya sangat melindungi diri mereka. Dan Shinta sangat ingin seperti itu.

Shinta sadar  bahwa benar  apa  yang ada di dalam Al-quran. Dan ayat inilah yang selalu menjadi metovasinya  :

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong  Allah (Agama-Nya),  niscaya Dia menolong  kamu dan menetapkan telapak kakimu” (Muhammad :7)

*****

Sebenarnya Shinta sangat ingin sekali masuk fkip, yang notabene nya langsung bisa mengajar. Tapi, Shinta malah masuk fisip. Dibilang salah jurusan tidak juga.  Malah difisip inilah membuat Shinta  sedikit mengerti  ideology dan  sama sekali tidak tertarik lagi untuk jadi seorang PNS, karena PNS bukanlah harga mati sebuah profesi.  Shinta sadari, Allah itu terkadang tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi memberikan apa yang kita butuhkan. Ternyata dunia FISIPlah yang  Shinta butuhkan, bukan FKIP. Beberapa bulan di FISIP,  membuatnya banyak pengalaman, Shinta lebih suka berorganisasi dan mempunyai banyak teman, mempunyai banyak pemikiran juga tentunya.

Di Fisip, Allah tidak membiarkan Shinta sendiri. Shinta diberikan lagi akhwat-akhwat yang sangat menjaga diri mereka dan menjaganya. Shinta masuk organisasi Islam dengan menggunakan jilbab standarnya, dan yang pastinya  Shinta memasuki semua pers kampus, mulai dari bulletin atau  majalah yang ada dikampuz biru itu. Shinta masuk majalah unib, bulletin komunikasi dan bulletin FISIP yang kebetulan dibuletin Fisip Shinta memberanikan diri untuk menjadi Pimred. Shinta sangat menyukai  menulis,  karena Shinta punya mimpi untuk mendirikan sebuah Pers Islami nantinya.

Dunia kampuz dan ukhwah mengalihkan pemikiran Shinta,  dia mulai berpikir sistematis. Shinta mulai merasakan   mempunyai keluarga baru di kampuz, yaitu IMC (Intelectual Moslem Community). Mereka semua saling menyayangi dan saling menjaga, tapi hijab tak pernah terabaikan. Semua orang di IMC rela  berkorban demi saudaranya, hal itu yang membuat Shinta sangat mengagumi aktivis dakwah.   Mereka selalu berpikir bagaimana  mengajak orang sebanyak-banyaknya  untuk  berbuat baik. Dan Shinta menyukai hal tersebut. Kembali Shinta memutuskan untuk  terus berada dalam golongan mereka. Setelah Shinta sedikit banyak mengerti tentang hakekat jilbab, dia merubah dirinya. Karena Allah tidak akan merubah suatu kaum, kecuali kaum itu yang merubahnya.  Shinta  memperpanjang jilbabnya, hingga Shinta benar-benar menutup auratnya. |

Keteguhan Shinta membuat salah seorang ikhwah tak dikenal  mengaguminya, dan mengajaknya untuk ta’aruf.

Ba’da jumat, ada yang  menghubungi Shinta.
085758xxxxx
Asslam….
Af1, ane sabar. Temannya ukhty Qiannah. Ane banyak tau tentang anti dari dia.
Shinta
Wasslam….
Iy, ada perlu  ap???
Sabar
Bolehkah ane mangajak antum untuk ta’aruf???
Shinta  tak menanggapi dengan serius perkataan orang yang tak dikenal itu,  dia menganggap itu hanya orang iseng aja.
Shinta
Ta’aruf dalam rangka apa??
Sabar
Ta’aruf yang dirhidoi Allah n menjalankan sunah Rasulullah.
Shinta tak tau mesti menjawab apa, ia masih bingung,  ini benaran atau hanya  permainan.  Shinta tak mempedulikan sms itu, dia masih bingung dalam kebingungannya.
Sabar
Beneran ane serius sama ukhty
Shinta tak berani menjawab, tak tau mau jawab apa. Ya  atau tidak pun tak tau. Kebetulan disaat itu, di samping Shinta ada ibunya yang sedang tidur-tiduran. Shinta menceritakan semuanya kepada  sang ibu tercinta.
Shinta
Buk, ada orang yang mau ngajak Shinta kenalan. Gimana??
Ibu
Kenalan lah, masa orang mau kenalan malah dicuekin.
Shinta
Maksudnya kenalan kearah yang lebih lanjut. Kalo di dalam islam, namanya itu ta’aruf buk. Biasanya  kalo orang yang udah ngajak ta’aruf,  berarti ujung-ujungnya dia ngajak nikah.
Sesederhana mungkin  Shinta menceritakan kepada ibunya, soalnya  keluarganya bisa di katakan tidak mengerti masalah ta’aruf. Termasuk juga Shinta.
Sms Sabar datang lagi,
Sabar
Sungguh ane ingin  ta’aruf sama ukhty. Bolehkah??
Masih Shinta belum  bisa menjawab,  Shinta  menunggu respon dari ibunya.
Shinta
Seandainya Shinta menikah ketika masih kuliah bagaimana buk???
Ibu
Terserah  Shinta,  kalo ibu  setuju aja.  Lagian seandainya Shinta telah menikah, ibu n ayah bisa mengurus kebun yang kemaren. Kami tidak khawatir lagi meninggalkan mu di Bengkulu, karena kamu sudah ada yang jaga.
Hidup itu adalah pilihan, jika Shinta merasa dengan menikah Shinta akan lebih bersemangat dan lebih banyak  dampak positifnya. Mengapa tidak? Jawab ibu Shinta sederhana.

Tak lama datang lagi sms Sabar yang belum bisa  Shinta jawab.
“Ane beneran serius sama ukhty”.
Sebenarnya Shinta tidak mau membalas sms Sabar. Tapi, setelah Mendengar penjelasan ibu,  air mata Shinta menetes. Ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya.  Tanpa pikir lagi, Shinta membalas sms Sabar.
“Terserah antum, ane tidak marah dan tidak masalah   jika mau ta’aruf. Selagi itu masih dijalan Allah”.

*****
Tak berapa lama kemudian, Shinta langsung menghubungi ukhty Qiannah untuk mencari tahu sedikit-sedikit tentang Sabar.
Shinta : Ukh, agama sabar gimana ukh?
Qiannah : insya Allah baik, coba aja tes ajak diskusi ukh? He
Shinta :  sifatnya gimana?
Qiannah : Dia baik,  cepat akrab sama orang dan juga humoris,  dia jurusan ushuluddin, kebetulan dia  baru menjabat sebagai senat dijurusannya,  dan dia juga adalah ketua Hima. Jadi, kami sering ketemu kalo lagi ada rapat HIMA.  Menurut ane, dia sama seperti namanya.  Kalo soal mengambil keputusan dia  tegas.
Shinta : owh….,oy ukh, tadi anti bilang dia kelahiran tahun 85. koq  sekarang baru semester 3?

Qiannah : iya, setelah SMA dia mondok dulu selama 10 tahun untuk menghafal Al-Quran,  dia Asli Jakarta, tapi berhubung  Ayahnya ada sebuah pesantren di Bengkulu, jadi untuk sementara dia disuruh Ayahnya  mengajar di Pesantren itu dan sambil kuliah. Kalo nggak salah dia juga mau pindah kuliah, tapi belum tau jadi apa nggak.
Shinta mengenal sabar melalui ukhty Qiannah, begitu juga dengan sabar. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah. Setelah malam ketiga Shinta melakukan istikharahnya, sabar mnghubungi  Shinta.
Sabar :
    Asslammua’alaikum…
Af1, Kalau ane akatin aja gimana?
    Syita :
    Maksudnya???
    Sabar :
    Maksud ane, kita akad aja. Walimahnya nggak usah terlalu rame
    Syita :
    Itu bisa menimbulkan fitnah
    Sabar :
    Anti lebih mementingkan dunia, bersihkan dulu hati anti.
Lagi-lagi syita dan sabar  berbeda pemahaman,  kedua makhluk ini  sering berdebat dengan pemahaman masing-masing.
    Syita :
Permikiran kita  berbeda, dari a-z kita berbeda. Terserah antum menganggap ane seperti apa, yang pasti keluarga ane bukan dari keluarga yang menggeluti islam.
Tapi, akhirnya Shinta memahami pemahaman   sabar dan memutuskan untuk tidak terlalu mewah.
Sabar :
Ukhty…
Anti mau mahar apa dan berapa? Biar ane bisa  siap-siap dari jauh hari.
Shinta :
Ane ada 3 permintaan mahar.
1.    Seperangkat alat sholat
2.    Sebuah baju kimono merah putih dari jepang
3.    Sebuah al-Quran beserta semua  hafalannya.
Sabar :
Ukhty…
Dimana ane cari baju kimono itu?
Hafalan? Apakah harus dilantunkan semua 30 juz?
Shinta :
Ane tidak tahu dimana ada jual baju kimono. Terserah antum mau cari dimana, yang pasti kalau di Bengkulu tidak ada. Masalah hafalan, antum tidak perlu melantunkan semuanya, cukup perwakilannya saja, juz 2 sama seperti tanggal lahir ane, yaitu tanggal 2.
Sabar :
Insaya Allah ane sanggup.
Ukhty…
Ane punya lima persyaratan untuk anti. Maukah mendengarkan??
Shinta :
Iya..
Sabar :
Yang pertama ,Anti harus ikut  ane ke Jakarta, yang kedua terima ane apa adanya,   yang ketiga cintai orang tua ane, yang keempat anti bersedia mendengarkan hafalan ane  1 juz setiap malamnya sebelum tidur, dan yang terakhir mengikuti perkataan ane, jika itu benar menurut Al-Qur’an dan sunnah.
Shinta :
Insya Allah ane sanggup, jika itu masih dalam naungan islam dan iman.
Sabar :
Apakah anti punya persyaratan lain selain mahar tadi?
Shinta :
Ada, ada beberapa persyaratan.|

Yang pertama, ane ingin seperti   Fatimah  yang dijadikan satu-satunya oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seperti Khadijah yang sangat di cintai oleh Rasulullah, seperti  sahabat-sahabat Rasulullah yang sangat menyayangi kedua orang tuanya, seperti  Najwa Shihab yang diperbolehkan oleh suaminya untuk  selalu berpendidikan dan seperti Aysah yang selalu  dipanggil khumairoh oleh Rasulullah. Dan ane tak ingin menjadi seperti Aasiyah yang disiksa oleh fir’aun karena harus terus mengikuti kata-katanya yang bertolak belakang dengan islam.

*****

Dua hari setelah terjadi percakapan itu, Shinta memberanikan diri membicarakan  tentang rencananya untuk menikah  kepada kedua orang tuanya.  Tentunya tidaklah mudah bagi Shinta untuk  memulai pembicaraan itu, Shinta harus mengumpulkan semua mentalnya dan  mempersiapkan diri tentang keputusannya.

“Ayah, bolehkah aku menikah?, Tanya Shinta polos.
“Yah, boleh donk! Masa Ayah melarangmu menikah. Tapi, kalau bisa jangan sekarang ya. Jelas ayah.
Shinta langsung terdiam dengan  mendengar kalimat ayah,  dadanya mulai deg-degkan.

    “Jika, seandainya Shinta maunya sekarang gimana yah?  Selidik Shinta lagi.
“Sebenarnya, ayah inginnya kamu menyelesaikan kuliah kamu dulu. Karena menikah itu tidak mudah sayang, ayah khawatir setelah menikah kuliahmu tidak lanjut lagi. ucap ayah
“Ayah, Shinta juga masih punya mimpi Ayah. Shinta juga masih ingin  menjadi orang sukses, tidak mungkin Shinta meninggalkan kuliah Shinta hanya karena status  Shinta  sebagai seorang istri.”
“Memangnya kamu mau menikah dengan siapa?”. Tanya ayah.
“Dengan laki-laki Jakarta Ayah”. Jawab Shinta

“Berarti setelah menikah, Shinta harus ikut dia ke Jakarta? Ayah tidak mengizinkan jika Shinta meninggalkan Ayah dan Ibu  di Bengkulu. Shinta itu anak satu-satunya  Ayah,  jika Shinta pergi siapa yang akan menemani kami di hari-hari tua, siapa yang akan  merawat kami jika kami sakit dan siapa yang akan mengurus jenazah Ayah dan Ibu jika kami meninggal? Jarak antara Bengkulu-Jakarta itu tidak dekat. Ayah khawatir nanti Shinta  menyesal, Ayah dan Ibu tidak tahu  kapan nyawa kami akan diambil. Jika Shinta memang benar-benar sudah siap untuk menikah, ajaklah calon suamimu untuk tinggal di Bengkulu saja. Tapi, jika tinggal di Jakarta Ayah tidak mengizinkan”, jelas ayah.
“Baiklah ayah, Shinta tidak ingin mendapatkan sesuatu tapi membuat ayah kehilangan sesuatu” jawab Shinta dengan  mimik lembutnya.

Setelah itu, Shinta terdiam dengan mata berkaca-kaca mendegar penjelasan ayah, “Ada benarnya juga semua perkataan ayah tadi”, bisik Shinta.

Shinta kembali menjadi ragu dengan keputusannya untuk menikah dengan sabar,  untuk kelima kalinya Shinta melakukan Istikharah. Setelah itu Shinta menghubungi sabar, dan menceritakan semua apa yang disampaikan oleh ayahnya. Sabar hanya terdiam, tidak mampu berkomentar apa-apa. Karena dia juga tidak diperbolehkan oleh Ibunya untuk meninggalkan Jakarta. Nasib Shinta dan sabar sama, sama-sama tidak diperbolehkan jika harus meninggalkan orang tua.

Shinta
“Semua keputusan ada pada Ayah ane, apapun keputusannya ane terima. Jika  memang beliau belum mengizinkan ane untuk pergi, Insya ane Ikhlas”, ucap Shinta.

***

Beberapa hari setelah percakapan Shinta dengan sabar, sabar  ditemani dengan seorang temannya  bersilaturrahmi kerumah Shinta untuk ta’aruf dengan keluarga Shinta. Shinta hanya  berani mendengar dari kamarnya saja, berharap-harap cemas. Ternyata Ayah Shinta teguh dengan keputusanya. Sabar belum diperbolehkan membawa Shinta ke Jakarta, sedangkan Sabar juga belum diperbolehkan oleh Ibunya untuk meninggalkan Jakarta.  Shinta  terus beristigfar berulang kali dikamarnya, dia berharap semoga keputusan yang diberikan Ayahnya itulah yang terbaik.

Shinta sudah tahu semua keputusan Ayahnya, Insya Allah Shinta ikhlas untuk melepas Sabar.
 “Berarti dia bukanlah jodohku”, bisik Shinta di dalam kamar sambil mengusap air matanya.

Keesokan harinya, sabar menghubungi Shinta ,
“Ukhty, afwan ane telah memberi harapan terhadap anti.  Ane tidak mampu untuk melanggar perintah  Ibu, ane juga tau anti juga tidak mampu untuk melanggar perintah Ayah. Sebenarnya ane berharap  kita jodoh, tapi jika Allah berkehendak lain Insya Allah ane ikhlas”, ucap sabar dengan nada bijaksana.
“Afwan jiddan juga, sebenarnya ane yang salah. Ane yang memberi harapan tak jelas terhadap antum. Ane  langsung meng iya kan semua persyaratan antum. Padahal dari persyaratan pertama aja ane tidak mampu untuk  melaksanakannya. Afwan jiddan untuk semuanya,  insya Allah ane juga ikhlas dengan keputusan ayah”, balas Shinta.

Sabar dan Shinta  sama-sama ikhlas dengan keputusan orang tuanya, sekarang barulah Shinta sadari ternyata jika tidak jodoh  biarpun udah didepan mata maka itu juga tidak akan bisa bersatu, bahkan sebaliknya.

*****

Hari ini jadwal Shinta menjemput Qanita di bandara, Qanita  adalah sahabat Shinta  yang tinggal di Palembang. Meskipun mereka belum pernah bertemu, namun  mereka sudah merasa begitu akrab.  Qanita lahirnya memang di Bengkulu, namun  setelah itu pindah ke Palembang.  Sekarang di Bengkulu  Qanita  tinggal dirumah pamannya untuk liburan.

Qanita ke bengkulu ternyata tidaklah sendirian, ada pamannya yang menemani dalam perjalanan.  Paman yang begitu baik dan bertanggung jawab menurut  Qanita. Setelah pesawat nomor penerbangan SJ 092 sampai,  Shinta bersiap-siap untuk menantikan kehadiran sahabat mayanya. Bagaikan orang yang telah akrab,  Shinta memeluk erat  Qanita. Padahal itu pertama kalinya mereka bertemu, namun sudah seperti bertahun-tahun. Tanpa memperdulikan pamannya, Qanita  berjalan  berdua dengan Shinta.

Shinta hanya menjemput dibandara saja, tidak  mengantarkan sampai kerumah. Karena Qanita bersama pamannya. Baru Qanita sadari bahwa pamannya sudah tidak ada lagi dibelakangnya.  Shinta pulang sebelum  Qanita memperkenalkan dengan pamannya, dikarenakan Shinta  harus mengajar sore itu.

“Ukhty, ane pulang duluan ya. Hati-hati! Unibbukifillah”, ucap Shinta.
“Sip…, hamasah. Uke”, balas Qanita dengan  menggempalkan  tangan kanannya serta diringi dengan senyuman khas yang sulit Shinta lupakan.
Kalo akhwat sudah ketemu akhwat, keluar semua deh  centilnya, tapi tetep syar’i.  dengan lambaian tangan yang menggoda, Shinta meninggalkan   Qanita di  ujung bandara Fatmawati.

Keesokan harinya  Qanita  bersilaturrahmi   kerumah Shinta, tentunya ditemani sang paman yang sangat menjaganya.
“Asslammu’alaikum….”, ucap Qanita
“Wa’alaikumsalam….”, balas Shinta
“Ukhty, kaif hal? Tanya Shinta sambil tersenyum penuh  makna.
“Bikhair cin, anti?
“Same…”, heee
“Masuk yuk, oh iya anti sama siapa kesini?”
“Sama paman ane, tuh masih dimotor”
“Oh, ajak masuk aja cin. Ane ambil minum dulu ya.

Qanita memanggil pamannya untuk  diajak masuk, Shinta sedang membuat teh  minuman di belakang untuk diberikan kepada Qanita dan pamannya.
    “Ukhty, kenalin ini paman Ane, namanya Anca”, jelas Qanita
Shinta langsung mengalihkan pandangannya terhadap laki-laki yang  disebut sebagai paman  itu oleh Qanita. Setelah dilihat-lihat, ternyata dia Anca,  pacar  Shinta ketika SMP. Anca juga terkejut,  bahwa teman  yang sering diceritakan Qanita dan seorang wanita yang berjilbab lebar itu adalah Shinta.  Sekarang Shinta sudah menjadi seorang akhwat, dan Anca juga sudah menjadi seorang ikhwah.

Tak pernah terpikir oleh Shinta, bahwa dia akan dipertemukan kembali dengan Anca. Tapi dengan suasana dan kehidupan yang berbeda, yang pasti suasana yang jauh lebih baik dari ketika mereka SMP.

****

Beberapa minggu setelah silaturrahmi itu, Qanita mengajak Shinta untuk  bersilaturrahmi dengan alam. Kemana lagi, kalo bukan pergi berpariwisata. Mereka pergi ketaman sambil memberi burung-burung yang ada ditaman itu makan.

“Ukhty, target anti untuk menikah kapan? Tanya Qanita
“Kapan jodoh nyampe aja, hee.
Ehem…ehem,,, jangan-jangan ada yang udah mau nikah ni”, ledek Shinta.
“Iy ukh, ada yang mau nikah.
Paman ane!
“Nikah sama siapa cin?”,
“Sama anti…!!! Heeeee,
“Huuuuft, dirimu.  Kasian tuh pamanmu yang selalu diomongin. Sela Shinta.
“Biarin aja, tapi mau kan? Ya, ya, ya, mau donk! Pinta  Qanita dengan rayuan mautnya.
“Kita liat aja nanti….”,

Shinta dan Qanita jika sudah ketemu bawaannya  ketawa aja, pasalnya dua makhluk ini orang-orang yang humoris.   Yang penuh dengan gurauan.
Keesokan harinya, ternyata  Qanita  kembali bersilaturrahmi kerumah Shinta. Tentunya dengan seorang paman yang sangat di sayanginya itu. Niatnya tak lain adalah untuk menanyakan jawaban terhadap pertanyaan Qanita siang kemarin.  Pertanyaan yang kesannya main-main tapi memerlukan jawaban yang serius. Shinta menjawab pertanyaan itu dengan kata “Iya”, berarti Shinta bersedia untuk menikah dengan  Anca.
orang tua Shinta setuju, soalnya Anca memang sudah menetap di bengkulu. Dan juga orang tua Shinta sudah lama kenal Anca, sejak mereka SMP ketika masih pacaran.

Qanita sangat senang dengan keputusan itu, akhirnya Qanita dapat melihat sahabat dan pamannya menikah.
Dua minggu setelah itu  mereka berencana untuk menikah, tentunya dengan pesta yang sederhana tapi   bermakna. Shinta  tak minta mahar apa-apa selain seperangkat alat shalat, beda ketika dia di khitbah Sabar.
Shinta teringat akan kata-kata Anca ketika mereka masih pacaran.

“Shin, suatu saat nanti jika Aku menikah, Aku ingin calon Istri Ku menggunakan kimono”.
Shinta memutuskan untuk memakai baju kimono  disaat pernikahannya.
Beberapa menit  sebelum akad dilaksanakan,  Shinta sangatlah merasa deg-dekan. Hingga akhirnya  akad selesai di ucapkan. Dengan doa yang tak henti, Shinta  menyambut tangan Anca, yang sekarang  telah sah menjadi suaminya.
“Ukhty, ana senang bisa melihat akhwat kimono  dengan nyata,  memujinya dan menyambut tangannya dengan senyuman. Berbahagialah wahai AKITADA”, rayu  Anca.

“AKITADA? Apa itu? Selidik  Shinta

“Akhwat Kimono Tiada Dua”, hehe
Shinta hanya bisa membalas dengan senyuman termanisnya.

“Ukhty, sebenarnya  yang ane maksud ketika SMP wanita jepang dengan kimono itu adalah seorang akhwat, tapi pada waktu itu ane tidak tau namanya apa. Berhubung pakaian mereka lebar-lebar seperti kimono jadi ane bilang aja  wanita kimono.  Ketika ane  bertemu anti kembali, ane terkejut ketika liat anti   sudah jadi akhwat. Dan itulah wanita kimono sebenarnya yang ane maksud. Bukan kimono beneran, heee”, ledek Anca terhadap istrinya yang  menikah menggunakan kimono itu.

Shinta malunya bukan main, masa orang sudah susah payah  pengembara kimono, ternyata  wanita kimono yang dia maksud ketika SMP tak lain adalah seorang akhwat.

Subhanallah.

MERRY ME


Cahaya matahari  datang menggoda Kota Rafflesia. Sudah beberapa minggu Akilla masuk sekolah setelah libur panjang, Akilla mempunyai seorang sahabat, Zahra.namanya. Zahra sosok sahabat yang sangat baik, yang selalu membantu Akilla,  baik materil maupun moril. Akilla dan Zahra dua wanita yang paling  hobby kalau ngomongin soal makhluk yang namanya cowok, tapi paling males kalau diperhatikan sama cowok. Inilah anehnya dua shohib ini.
Dimana ada zahrah disana dapat dipastikan ada Akilla. Ya, inilah kalimat yang paling pas untuk memberikan julukan terhadap kedua remaja ini. Mereka selalu berdua layaknya  orang kembar, didukung lagi dengan  wajah mereka yang lumayan mirip. Jika ingin mencari mereka, silahkan  datangi sebuah bangku dibawah pohon dipinggir lapangan. Mereka selalu menghabiskan jam istiharat mereka dengan memperhatikan dan menambah  koleksi  idola mereka.  Tak jarang mereka histeris kegirangan  jika si idola  melayangkan senyuman kepada mereka.

Tiba-tiba Zahra mendadak jatuh, saking girangnya. Jatuh karena meloncat kedalam siring kecil didepan bangku itu. Zahra kemudian dibawa oleh  akilla ke UKS. Lecetnya lumayan parah, bayangkan saja zahrah sampe nyungsep  memasuki siring yang banyak kerikilnya. Yang sekarang membuat Zahra berjalan dengan pincang

“Yah ini semua gara-gara keseringan merhatiin cowok kali”, ledek Akilla.
“Udah ah, males lagi gua merhatiin mereka. Akan ku ubah jadi mereka yang memperhatikanku. Hee, tegas Zahra sok bijak
“Tenang aja Za, kita pastikan mereka yang akan memperhatikan kita. Kita kan nggak jelek-jelek amat, pintar lagi”. Puji Akilla yang sok cantik dan berlagak sok pintar
“Oke, mulai sekarang kita tak akan memperhatikan mereka lagi. Sepakat?
“Sepatu?
“Loh??”
“Sepakat dan Setuju maksudnya”.
“Ohh, gaya luh La’, La”.
***

Hari-hari selanjutnya Akilla dan Zahra memang tak lagi memperhatikan semua idolanya, ternyata tekad mereka memang telah bulat untuk tidak mengulangi kebiasaan buruk mereka. Tapi, Si Zahra akan pindah sekolah, karena Ayahnya dipindah kerjakan ke suatu daerah. Semula Akilla tak percaya dan tak ingin berpisah dengan Zahra. Namun, Zahra mencoba meyakinkan Akilla. Hingga Akilla siap jika harus  ditinggal Zahra, si sahabat kentalnya, yang mungkin lebih kental dari susu.

 “Assalamu’alaikum” Sapa seorang teman laki-laki yang menghampiri Akilla.
“Wa’alaikumsalam….” Jawab Akilla.
“Kenapa duduk sendiri?”, Tanyanya.
“Lagi pengen sendiri aja, emang nggak boleh?” Ketus Akilla.

Kehadiran Reyhan membuat suasana hati Akilla bertambah panas, ditinggalkannya Reyhan sendiri dibawah pohon.
Hampir setengah tahun Akilla duduk di kelas XII, Akilla sudah terbiasa dengan keadaan sekolahnya, menurutnya sangat menyenangkan. Nggak tahu kenapa, Akilla menjadi dekat sama Reyhan, padahal Reyhan  makhluk yang paling Akilla benci 2 tahun yang lalu. Pada waktu itu Menurut Akilla, Reyhan merupakan sosok seseorang yang sok alim. Tapi berbeda dengan sekarang, Akilla merasa bahwa Reyhan adalah teman yang baik, yang setingkat demi setingkat menuntunnya ke jalan yang lebih baik.

Hari demi hari berlalu, sedangkan Akilla masih di posisi yang sama, dalam artian belum menjadi lebih baik. Selintas Akilla mengosongkan pikirannya, tiba-tiba ia teringat akan Reyhan, yang sudah beberapa hari ini tidak pernah datang ke kelasnya lagi. Biasanya hampir setiap hari Reyhan berada di kelas Akilla untuk menemui temannya Andra (Teman Sepersilatan Reyhan). Akilla semakin penasaran dengan tingkahnya, yang tiba-tiba saja menjauhinnya.

“Heyyy ….!!”, kejut Andra menghampiri Akilla.
“Jangan sering melamun!”, sapanya.
“Ndra, kenapa Reyhan jadi nggak pernah kelihatan lagi ya Ndra?” Tanya Akilla.
“La, kemaren Aku ke kelas IPS, aku ketemu Reyhan. Kemudian Aku mengajaknya kekelas kita, tapi sayang dia nggak mau. Katanya dia takut sama kamu. Emang dia kamu apain si La? Kok sampai segitunya?” jelas Andra.
Serrr …..!Jantung Akilla seakan berhenti berdetak, mendengarkan perkataan Andra, hati Akilla meringis menahan perih, entah angin macam apa yang datang padanya hingga Akilla merasa kepanasan.
“Salah apa aku sama Reyhan?” lirih Akilla.

Hati Akilla hancur berkeping-keping, sekarang Reyhan kelihatannya sangat membenci Akilla. Akilla tidak tahu apa yang harus dia lakukan, bahkan letak kesalahannyapun dia tak tahu. Tiba-tiba Reyhan lewat di depan Akilla, benar jangankan menyapa, senyumpun tak ada untuk Akilla.

Enam bulan telah berlalu tanpa Reyhan, semenjak kehilangan Reyhan, Akilla mencoba memperbaiki diri agar tak ada lagi orang yang tersakiti olehnya. Akilla ingin menjadi wanita yang baik, menjadikan masa lalunya sebagai pelajaran.

*****

Terik matahari sama sekali tidak bersahabat pada hari itu, butiran mutiara membasahi pipi Akilla. Hawa panas semakin menikam.

“Akillaaaaa………….!”Terdengar suara seseorang memanggilnya.
“Akillaaaaa………….!” Suara itu mencoba memanggil lagi.
Mata Akilla mencari-cari sumber suara, jantungnya kembali berdesir semakin cepat, Akilla terkejut ketika bola matanya menemukan sumber bunyi,
“Reyhan..!” Panggil Akilla dalam hati.
“Kemari….!” Pinta Reyhan.

Dengan ragu Akilla menghampiri Reyhan, sambil duduk di pinggiran masjid.

“Killa, Aku ingin membuat pengakuan terhadap sikapku selama ini. Killa, Maaf jika tiba-tiba saja aku menjauhi kamu, jujur karena aku suka sama kamu. Aku selalu berusaha untuk melupakanmu, karena aku tidak mau mempunyai rasa suka yang berlebihan, aku takut kalau aku selalu didekat kamu, aku akan merasakan hal tersebut. Aku akan selalu mempertahankan prinsipku La’, Aku Tidak Akan Pacaran. Karena di dalam islam pacaran itu tidak ada, kecuali setelah menikah”, jelas Reyhan.

Bumi seakan berhenti berputar, jampun berhenti berdetak, Akilla terdiam tanpa kata, sungguh terkejut mendengar penjelasan Reyhan. Akilla tak pernah tahu bahwa reyhan menyukainya, karena Akilla tak pernah menyukai Reyhan lebih dari teman. Akilla seakan menjadi orang tolol di antara orang-orang tolol,  yang berarti kelihatan sangat tolol sekali, tak mengerti dengan penjelasan Reyhan. Tanpa sepatah katapun, Akilla langsung meninggalkan Reyhan di pinggir  masjid itu. Sepanjang perjalanan pulang, Akilla selalu teringat dengan kata-kata Reyhan.

“Kenapa dia menyukaiku?”, Jerit Akilla dalam hati.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, entah mengapa diam-diam Akilla  menaruh kekeguman terhadap Reyhan. Reyhan rela mengorbankan perasaan demi Agamanya. Sedikit demi sedikit Akilla mulai merubah gaya hidupnya, sedikit memperpanjang jilbabnya, mempersopan bicaranya, dan melembutkan tingkahnya. Sekarang Reyhan  adalah seseorang yang paling Akilla kagumi di sekolahnya.  Lewat keteguhan hatinya membuat Akilla meniru gaya hidupnya., hingga Akilla benar-benar menyukainya. Tapi sayang, rasa itu tak sempat bertahan lama. Lewat temannya, Akilla mengetahui bahwa Reyhan Pacaran. Akilla benar-benar merasa kecewa di buatnya, tapi bukan rasa cemburu. Sungguh kejadian itu membuat rasa kekagumannya terhadap Reyhan  menjadi hilang. Hingga akhirnya, Akilla mulai menjauhin reyhan. Di tambah lagi, teman Akilla juga ada yang sangat menyukainya. Hal ini yang mengharuskan Akilla melupakan Reyhan.

******

Empat tahun berlalu setelah kelulusan SMA, Akilla telah menjadi pimpinan suatu organisasi Islam.

“Assalamu’alaikum…..”, terdengar suara di depan pintu rumah Akilla.
“Wa’alaikumsalam……”, Jawab Akilla.

Akilla langsung membuka pintu. Tapi, betapa terkejutnya Akilla, antara percaya dan tidak. Di depan matanya telah berdiri seorang pemuda yang berpakaian rapi, bersih dan tak pernah ketingggalan Al-Qur’an di sakunya. Ya, dialah Fikri, sahabat kecil Akilla yang baru pulang dari Amerika. Dalam sejenak Akilla dan Fikri langsung mengalihkan pandangannya. Sudah 8 tahun Akilla tidak bertemu Fikri. Akilla dan Fikri berbagi cerita dan pengalaman, sambil ditemani oleh Ibunya Akilla. Akilla sempat bercerita tentang Reyhan kepada Fikri. Fikri begitu simpati mendengar cerita Akilla, seakan dia mengetahui semua riwayat tentang Akilla.

“Akilla, Ibu,  Fikri pamit dulu ya, sepertinya hari sudah mulai sore”,  kata fikri.
“Ya nak Fikri, sampaikan saja salam kami kepada orang tua mu”, Jawab Ibu Akilla.
“Jazakallahu khairan katsyiran yaa akhi”,sambung Akilla.
“Syukran Ukh”,  Jawab Fikri.
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumsalam….”
Hari itu hari yang paling membahagiakan bagi Akilla, bisa bertemu dengan Fikri marupakan  suatu hal yang tak pernah disangka-sangka.

******

Malam itu angin berhembus seakan bersahabat, Pepohonan menari-nari bak mengikuti irama. Sambil menikmati Alunan Nasyid kesukaanya yang berjudul “Menanti Bidadari”, Akilla memandangi semua ciptaan Allah. Tanpa disadari butiran bening mengalir dipipi Akilla, ia mengingat kembali lantunan doa yang ia kagumi.“Dengan tangis ini Ya Allah,  Anugrahilah jiwa hambamu ini dengan hangatnya cinta-Mu dan mencintai mereka yang mencintai-Mu, dan mencintai apapun yang mendekatkan aku pada-Mu, Jadikanlah cinta-Mu lebih berharga dari pada air yang segar lagi dahaga, jika kehadiran ku di dunia membuatku harus membunuh sesama, maka kematian akan terasa lebih manis untukku, bimbinglah hatiku untuk mengingat serta mendengarkan seruan-Mu untuk kembali ke jalan yang Engkau Ridhoi”. Akilla tersentak ketika mendengar suara seekor  cicak, sambil menghapus beningan dipipi, Akilla  pergi tidur.
Setelah 3 bulan Fikri berkunjung kerumah Akilla, Akilla tak pernah bertemu Fikri lagi. Tiba-tiba Handphone Akilla bergetar, sms Fikri.

“Assalamu’alaikum  ukhti, besok  jika Ukhti mengizinkan, Insya allah ana akan datang bersilaturrahmi kerumah ukhti dikarenakan  ada yang penting”.
Akilla langsung membalas sms Fikri,
“Wa’alaikumsalam, Insya Allah ana mengizinkan”.

Narasi berlalu tanpa henti, satu hari itu bukanlah waktu yang lama, Akilla mendengar suara seseorang mengucap salam, Akilla langsung membuka pintu dan mempersilahkan Fikri masuk. Tanpa basa-basi Fikri memulai pembicaraan yang  dianggap penting itu.

“Sebelumnya Afwan Jiddan ukh, saya mau menanyakan hal ini sebenarnya dari 3 bulan yang lalu. Tapi, baru punya kesempatan dan waktu yang tepat hari ini”.
“Apakah ukhti telah ada niat untuk Menyempurnakan separoh agama Allah??” Tanya Fikri.

Narasi seakan-akan berhenti sejenak, jantung Akilla lagi-lagi berdetak semakin cepat dari biasanya, Akilla tak tahu harus menjawab apa tentang pertanyaan Fikri. Paras Akilla mulai memerah, “Apa maksud peranyaan Fikri..?? Apa mungkin dia hendak mengkhitbahku…?”Pikir Akilla .
“Ehemm…., Apakah anti mendengarkan apa yang saya tanyakan tadi?”, sentak Fikri tiba-tiba memecahkan lamunan Akilla.
“Fikri, Jika memang Allah telah  menghendaki saya menikah, akan saya laksanakan,. Wallahu Wa Rasuluhu A’lam akhi”, jelas Akilla.
“Ukhti, saya mempunyai seorang teman yang menurut saya baik, yang mungkin sesuai dengan ukhti.  saya bermaksud memperkenalkan ukhti dengannya. Tapi semua terserah ukhti. Saya ingin ukhty melupakan semua masa lalu ukhty, dan mencoba untuk memulai dari awal lagi. Insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk umatnya yang selalu mendekatkan hatinya kepada-Nya.” Jelas Fikri.
Akilla semakin terdiam,……
“Saya harus bicara dulu dengan Ummi”, tambah Akilla.

Ibu Akilla yang sedari tadi berada di samping Akilla menyerahkan semua seputusan kepada Akilla.

“Putriku, jika itu dapat membuatmu bahagia, Ibu akan merestuimu nak. Sudah saatnya kamu menikah anakku, selalulah  meminta petunjuk kepada Allah.

Insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik untukmu”, jelas Ibu nya.
Akilla mengangguk yang bertanda dia menyetujui keinginan Fikri,

“Ukhti, besok malam saya akan datang bersama teman saya dan orang tuanya, untuk memperkenalkan dia dengan kalian. Kalau begitu saya pamit dulu, Syukran atas sambutannya, Jazakumullah Ahsanal Jaza’, Assalamu’alaikum….”.
“Wa’alaikumsalam..”.

******


Fikri datangnya lebih awal, bersama teman dan orang tuanya. Akilla tetap berada di kamar. Beberapa menit kemudian, Akilla memberanikan diri untuk turun. Ibunya memanggil Akilla, dan memberikan Isyarat agar menatap ke depan. Subhanallah, Tahmid, Syahadat dan Shalawat selalu terucap di bibir Akilla. Mata Akilla mulai berkaca-kaca entah senang atau apa?

“Reyhan…….,” Panggil Akilla pelan.
Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah Akilla, sedangkan  Akilla sungguh terkejut.

“Afwan Jiddan  Ukh, atas semua kesalahan saya yang lalu, saya memang orang yang paling bodoh, tapi saya sadar semua memang salah saya. Saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya, sungguh saya di dalam kekhilafan yang besar. Sekarang saya datang kemari untuk meminang ukhti, Apakah ukhti bersedia ?”,  Tanya Reyhan.

“Saya bersyukur sekali masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan antum lagi, saya akan terima lamaran  antum dengan satu syarat, saya minta mahar surat Al-Baqarah ayat 142-252, antum harus menghafalnya dalam satu malam. Kembalilah besok”, pinta Akilla.

“Yaa ukhti, dengan senang hati saya menerima persyaratan yang anti berikan, Insya Allah saya akan kembali besok”, jawab Reyhan.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam mendengar ucapan Akilla, Akilla langsung meninggalkan ruangan tersebut.

***

Reyhan dan kedua orang tuanya telah tiba di rumah Akilla, mereka disambut dengan sopan oleh keluarga Akilla. Perasaan takut kembali menghantui Akilla. Tapi, Subhanallah  Reyhan melantunkan Ayat-ayat yang dikagumi Akilla dengan Fasih dan Thartil. Mata Akilla kembali berkaca-kaca, mengucap rasa syukur kepada Allah   tiada hentinya.  Akad nikah Akilla akan dilaksanakan 2 hari lagi, mulai dari “Walimatul Ursy” sampai walimah semuanya tanggung jawab Fikri. Fikri pernah berjanji kepada Reyhan, bahwa  jika reyhan menikah dengan  Akilla  dia yang akan bertanggung jawab untuk semuanya.

“Sungguh mulianya hati Fikri, semoga Allah membalas semua kebaikannya”, doa Akilla.

Tengah malam sebelum acara pernikahan, Akilla melaksanakan shalat malam. Sampai subuh Akilla terus memuji keesaan  Allah. Sekitar pukul 08.00 pagi, akad pernikahan akan dilaksanakan, berarti tinggal beberapa menit lagi. Jantung Akilla seakan terasa berguncang. Tapi, sampai detik itu Akilla belum menemukan kehadiran Fikri. Sekarang akad nikah segera dilaksanakan, Reyhan mulai membaca Surat yang dijadikan Akila sebagai maharnya. Fikri sampai detik itu pun belum juga kelihatan dan dia sama sekali tidak memberikan kabar kepada Akilla dan Reyhan.

Ba’da Dzuhur, Akilla  dan Reyhan mendapatkan kabar bahwa Fikri sedang dirawat di salah satu Rumah Sakit di Kota Kembang.  Badan Akilla menjadi lemas seketika, bercampur khawatir dan marah terhadap Fikri.  Air mata Akilla meleleh, Reyhan juga tak kalah sedihnya dengan Akilla.  Akilla dan Reyhan langsung meninggalkan pesta,. Sampai di Rumah Sakit,  Mereka menemukan tubuh Fikri terbaring lemah di ruang ICU. Sudah beberapa jam Fikri belum sadarkan diri. Kata dokter, dia menderita kanker otak, karena terlalu sering terkena panasnya terik matahasi dan kelelahan yang berlebihan. Mendengar hal itu Akilla menangis sejadi-jadinya, Akilla  merasa menjadi orang yang paling bersalah, karena mengurus pernikahannya sehingga Fikri jatuh sakit. Dalam sekejab Akilla tak sadarkan diri, Reyhan juga kelihatan lemas melihat fikri berada di ruang itu.

“Sungguh mulianya hatimu Fikri, dirimu rela berkorban demi kebahagian kami”, Ucap Reyhan.
Tak berapa lama kemudian, Dokter keluar dengan paras sedikit lebih cerah.
“Alhamdulillah, dengan pertolongan allah  akhirnya doa kalian dikabulkan”, kata Dokter.
“Alhamdulillah..”, bisik Akilla dan Reyhan secara bersamaan.
“Beberapa hari lagi Reyhan sudah di izinkan untuk pulang”, tambah Dokter.
Selang waktu beberapa menit, tiba seorang wanita yang menurut Akilla sudah tidak asing lagi di matanya.
“Zahra….., engkaukah itu??”, Tanya Akilla penasaran.
“Iya, ini saya Zahra”, Jawabnya.
Akilla dan Zahra sama-sama melepas Rindu.
“Mengapa anti berada di tempat ini?”, selidik Akilla.
“Kemaren sore, saya mendapat kabar mantan kekasih saya dirawat di tempat ini, makanya saya kesini”, Celetus Zahra.
“Maksudnya Suamiii?”, Tanya Akilla tambah penasaran.
“Tepat sekali, Fikri namanya”, sambung Zahra.

Akilla langsung tercengang,  antara tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.  Sedangkan Zahra tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Akilla. Zahra menceritakan semuanya kepada Akilla,  termasuk juga rencana mereka menjodohkan Reyhan dengan Akilla.  Sedang Reyhan hanya bisa tersipu malu mendengar penjelasan Zahrah kepada Akilla. tentang lamaran ayat 142-252 itu telah diberitahukan Fikri jauh sebelum lamaran dilakukan, dengan maksud Reyhan mampu untuk menghafalnya.

Resep Chicken Roll So Good

Thursday, July 20, 2017

Assalamu’alaikum….

Minal Aidin Walfaizin  mohon maaf lahir dan batin teman-teman, gimana puasa kemarin? So pasti sukses dong jalaninnya. Nggak terasa ya udah lebaran aja, seperti biasa emak-emak pada rempong nyiapin menu untuk Hari Raya. Mulai dari kue ringan, kue berat, manisan, sampai pada daging-dagingan. Bicara soal daging-dagingan, aku dari dulu sampai sekarang paling doyan dengan daging ayam.  Biasanya kalo lagi singgah makan di warung makan, menu daging ayam nggak pernah ketinggalan loh. pas banget, pilihanku terhadap ayam potong kalo nggak Paha ya Dada.
Ngomong-ngomong soal daging ayam terutama paha ayam, jadi inget pas masih kecil deh. Dulu itu sekitar tahun 1995an, aku ke Palembang dengan keluargaku. Pas lagi doa syukuran di tempat saudara, aku nya nagis-nagis sambil teriak mau paha ayam.  Menurut cerita emak, orang-orang yang lagi ngedang (makan bersama diruang tamu yang besar sambil duduk lesehan), semua liatin aku. Akhirnya setiap piring yang ada paha ayam di dekatin semua ke aku. Malu…malu…malu…

Kalo sekarang, aku nggak khawatir lagi kekurangan paha ayam. Hee. Karena So good sudah menyediakan ayam potong paha dan dada yang dikemas secara hygienis dan berkualitas. So Good selalu menghasilkan produk protein hewani dari bahan-bahan berkualitas. Komitmen ini menginspirasi inovasi kami untuk terus memadukan bahan berkualitas, keahlian, dan teknologi modern melalui kontrol kualitas yang ketat, sehingga menghasilkan hidangan yang nikmat bernutrisi untuk keluarga tumbuh bahagia dan sehat.

Berasal dari bibit ayam pilihan yang dipelihara secara baik di peternakan modern, ayam So Good tumbuh tanpa suntikan hormon. Dipotong secara HALAL, dibekukan sempurna dengan teknologi IQF (Individually Quick Frozen) yang mengunci 4 kualitas ayam segar yaitu SEGAR, GIZI, RASA & BERSIH. Praktis, tinggal olah, tak perlu dipotong dan dicuci!

baca juga : 
http://dapursogood.id/
 
Nah, hari raya kali ini sembari aku belajar masak karena sudah berstatus istri, aku mau masak Chicken Roll So Good. mudah-mudahan enak ya, yuk simak buibu: hihi
 


Chicken Roll So Good

Bahan Chicken Roll So Good :
  1. Daging Ayam Potong So Good, dihaluskan atau bisa juga dicincang
  2. Bawang Bombai, potong dadu kecil
  3. Roti Tawar, buang pinggirnya
  4. Susu Bubuk
  5. 2 butir telur
  6. ½ sdt Lada
  7.  Bawang Merah dan Bawang Putih dihaluskan
  8. Penyedap rasa ayam
  9. Minyak goreng
  10. Saos sambal
Bahan Hias : Tomat, Daun selada
Cara membuat :
  1. Campurkan daging dan bawang bombai
  2. Tambahkan telur  (kuningnya), pisahkan dengan putih telur
  3. Tambahkan 2 sendok makan susu bubuk
  4. Tambahkan lada secukupnya
  5. Tambahkan barang merah dan bawang putih
  6. Tambahkan bubuk kaldu ayam 
  7. Kemudian aduk sampai merata
  8. Ambil roti tawar yang telah disediakan, kemudian pipihkan
  9. Letakkan campuran daging dengan bumbu diatas roti, kemudian digulung
  10. Setelah itu direkatkan dengan putih telur yang telah disediakan
  11. Selanjutnya kukus selama 10 menit
  12. Setelah dikukus, potong menjadi 4 (sesuai selera)
  13. Baru setelah itu Chicken Roll siap untuk di goreng
  14. Finally, Chicken Roll siap dinikmati 







Itu dia resep sederhanaku, bagi teman-teman yang juga mau ikutan lomba kreasi masak Ramadhan dan Idul Fitri ala So Good bisa akses langsung untuk syarat dan ketentuannya di https://bloggerperempuan.co.id/sogood/

Salam kuliner Indonesia, semoga bermanfaat.

#BPNxSOGOOD
#RamadhanSoGoodAyamPotong


Auto Post Signature