Kamis, 08 Juni 2017

AYAH, IZINKAN AKU MENIKAH



Tuhan,,,
Aku gadis  18 Tahun, pasti kau jauh lebih tau sebelum yang lainnya tahu, karena Engkau Maha Mengetahui.

Tuhan, bantu Aku meyakinkan Ayah, bahwa Aku ingin menikah. Tapi, mengapa semua orang mengganggapku masih kecil? Tak terkecuali Ayah,  selalu menganggapku anak kecil. Kecil sekali!

Ayah, beberapa bulan yang lalu Aku mengikuti  materi kontemplasi, dan disana Aku melihat  seorang anak laki-laki berumur enam tahun telah mampu merawat ibunya yang sedang menderita lumpuh. Mereka hanya hidup berdua dan sangat sederhana, si anak menanak nasi, menyuapi Ibunya, bahkan mencari nafkah untuk Ibunya. Ia melakukan itu sendiri dan setiap hari.  Anak kecil yang belum banyak mengerti, mampu  memberikan yang terbaik untuk keluarganya. 

Apakah ia belum bisa dikatakan berpikir dewasa? ,Lalu, indikator dewasa itu apa Ayah?
Umurkah?, Raut mukakah? , Atau Hartakah?.
 Subhanallah Ayah,  tak ada yang bisa Aku katakan mengenai anak kecil itu, hanya bisa menangis, teringat akan umurku yang terus bertambah, tapi  tak banyak yang bisa ku lakukan. Menunggu kata dari Ayah kalau Aku telah dewasa. 
Tapi kapan Ayah? , Kapan engkau akan bilang bahwa Aku telah dewasa? ,Menunggu umurku 25 tahun? ,Menunggu Aku kaya? ,Atau Menunggu semua orang memujiku karena tumpukan sertifikat yang berlabel Juara? Atau juga, menunggu usai wisuda?
Oh,  tidak Ayah! Kesuksesan itu bukan dinilai seberapa tinggi pendidikan kita, seberapa cepat kita wisuda, seberapa melimpah harta kita, bahkan juga bukan dinilai seberapa banyak pujian yang terlontar. Tapi, kesuksesan itu dinilai dari kebahagiaan yang kita punya. Jika kita merasa bahagia, berarti kita telah sukses Ayah.

Ayah,,,,
Izinkan Aku menikah, Aku lelah mendengar celotehan teman-temanku yang ingin menikah ketika mapan, ketika telah sukses, ketika telah membahagiakan orang tua, seolah-olah mereka menganggap   “Pernikahan” sebagai  penghambat semua impian mereka. Padahal Ayah, jelas-jelas Allah punya janji bagi orang-orang yang menikah.
Ya kan Ayah?

Aku tahu Ayah, Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Aku yakin itu!
Dikampusku, sepertinya hanya Aku yang benar-benar ingin menikah muda. Dan perlu kau tahu,  Aku siap Ayah! Argumen teman-temanku terkadang begitu menyakitkan, mereka mencoba mempengaruhiku dengan pemikiran mereka yang Aku anggap aneh, menikah tunggu sukses. Tapi, Aku tegaskan kepada mereka “Aku akan menikah, dan akan ku jemput kesuksesan sejatiku”. Sekali lagi, bukan  sukses kemudian menikah, tapi menikah kemudian sukses.

Ayah, semakin banyak yang mencoba menggoyahkanku,  Aku semakin tertarik untuk mencari tahu misteri dibalik satu kata itu.  Semakin Aku mencari tahu,  azzamku semakin kuat untuk segera menikah. Dan sekarang Aku tahu hukum nikah untukku,  yaitu WAJIB!  Karena wajib itu  tidak hanya  mampu dalam segala hal,  tapi jika ada niat  menikah karena ingin menjaga diri dan kehormatannya, maka itu juga dikatakan wajib hukumnya.

Ayah,,,

Ada tiga factor yang membuatku ingin menikah muda, dari segi agama, biologis dan sosial. Dari segi agama, Aku ingin menjadi salah satu orang yang dimuliakan oleh Allah.
“Ada tiga golongan orang yang ditolong oleh Allah, orang yang berjuang fissabilillah, orang yang  memerdekakan budak dan orang-orang yang menikah  dengan tujuan menjaga diri dan kehormatannya.

Dan rasulullah pernah berkata kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

Ada 3 perkara  yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu:
Shalat apabila tiba pada waktunya,  jenazah apabila telah siap penguburannya serta  wanita  bila menemukan pria yang sepadan  yang meminangnya.
Banyak hadist yang menguatkanku untuk menikah Ayah, seperti kata Rasulullah :
“Menikahlah kalian,  karena Aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat”.

Ya Robb, belum cukupkah  Aku percaya dengan semua janji-Mu dan Rasul-Mu??

Selanjutnya dari segi biologis Ayah, usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita  adalah antara 20 sampai 30 tahun Ayah,  diatas umur tersebut  akan beresiko baik bagi ibu maupun bagi si bayi. Seperti firman Allah “Segeralah mendapatkan keturunan, dimana anak menjadi  Qurrata A’yunin penyejuk mata dan menenang hati (QS 25: 74)”.

Tahukah Ayah, menurut Riset dari Amerika serikat. Bahwa kecerdasan anak yang dilahirkan dengan usia orang tua yang lebih muda akan lebih cerdas potensinya dari pada seorang anak yang dilahirkan dengan usia orang tua yang lebih tua.  Aku ingin melahirkan  mujahid-mujahid kecilku yang beriman lagi cerdas Ayah.

Ayah, yang terakhir dari segi social. Aku ingin menjaga pandangan dan hatiku Ayah, Aku tak ingin hatiku terkotori ataupun malah Aku yang mengotori hati makluk lain. Na’uzubillah Ayah.  Ayah, Aku ini wanita yang suka kebebasan dan tak pernah betah berada dirumah. Aku sering pulang malam, bahkan terkadang tidak pulang. Aku ingin merubah itu Ayah. Aku sadar akan perbuatanku, aku juga sadar akan statusku sebagai wanita. Itu bukan masalah benar atau salah, tapi pantas dan tidak pantasnya.
Pantaskah jika wanita pulang lewat dari magrib?

Aku rasa  tidak Ayah!. Jika teman-teman bilang, menikah itu mengurangi kebebasan. Maka, itulah sebenarnya yang aku cari. Aku ingin mengurangi kebebasanku dengan menantikan kepulangan suamiku, memelihara mujahid-mujahid kecilku.  Berangan menjadi Anak, menjadi Istri dan menjadi Ibu yang sholeha.  Tak sekedar pergi pagi pulang malam. Ayah pasti tahu kan, kalau Aku jarang sekali dirumah.

Ayah,,,,
Ayah juga tahu kan pernah ada seorang ikhwah yang ingin mengkhitbahku, dia menjelaskan kepadaku,
“Ukhty, Allah itu memudahkan rezeki bagi orang-orang yang menikah”
Tapi pada waktu itu umurku baru awal 17 tahun, pemahamanku masih terlalu awam. Masih berpikir masalah materi. Aku merasa orang yang benar-benar bodoh Ayah, menolak i’tikad baik hanya karena sebuah materi.

Ayah, 2 bulan  setelah penolakan itu. Aku mendapatkan kalimat yang membuatku sangat merasa berdosa dan terdiam.  Perkataan seorang ikhwah kepada calon mertuanya:
“Saya memang belum mempunyai pekerjaan tetap, tapi saya akan tetap bekerja. Saya memang belum mempunyai penghasilan tetap, tapi saya akan tetap berpenghasilan”
Kalimat diatas menguatkanku untuk segera menikah Ayah. Karena tak ada yang pantas aku pertahankan. Tidak kecantikan, tidak kebebasan, tidak juga  makhluk-makhluk asing yang selalu mengganggu kontakku.  Aku tak ingin munafik Ayah, mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya padahal aku tak menjalankan perintah-Nya.

Ayah….
Aku pernah  menyampaikan  pikiran awamku terhadap ikhwah yang pernah ingin mengkhitbahku, lalu Aku membatalkannya karena memikirkanmu.
“Afwan, saya tidak tahu apakah saya bisa hamil cepat atau tidak. Yang perlu antum ketahui,  orang tua saya sangat sulit mempunyai keturunan.  20 tahun setelah menikah baru kemudian terlahir saya. Jika hal ini terulang kembali terhadap saya, bagaimana pendapatmu?
“Ukhty,  cobalah berpikir positif kepada Allah. Pelacur (maaf) saja yang melakukan hubungan gander dengan jalan yang hina,  diberi karunia  berupa anak oleh Allah. Apalagi kita, yang jelas-jelas  merupakan bagian dari ibadah.”
Ayah, jujur. Penjelasan singkat itu membuat Aku terdiam.  Selanjutnya, Aku mencoba bertanya lagi Ayah.
“Mengapa memilih saya? saya bukan akhwat yang menggunakan jilbab lebar, saya tidak pintar,  saya jauh dari kata cantik, bahkan saya bukan wanita yang hafal Al-qur’an sepertimu. Perlu antum ketahui, Jangankan 30 juz,  juz 30 pun saya tak hafal”.
“Ukhty, semua wanita itu adalah akhwat.  Dan didalam pandanganku, akhwat itu bukan dinilai dari berapa panjang jilbabnya dan juga bukan dinilai berapa cantik parasnya.  Menikah tidak mesti dengan wanita yang berjilbab lebar ataupun agama islamnya yang kental.  Tapi, menikah  dengan tujuan dakwah, itu jauh lebih indah dan mulia”.

Ayah,,,
Apakah engkau  akan sama seperti teman-temanku, belum mendukungku untuk menikah.  Aku akan tunggu sampai Ayah memberikan SIMku (surat izin menikah).
Ayah, tahukah engkau? Tidak hanya sebelum menikah yang telah Aku bayangkan dan Aku pikirkan,  tapi juga anak-anakku nanti Ayah.  Aku telah membayangkan,  bagaimana mujahid-mujahidku berlontar ceria dengan kecerdasannya. Beragam pertanyaan polosnya mewarnai hari-hariku. Akan Aku habiskan masa kecil anakku nanti bersamaku.  Karena Aku tidak mau mencerdaskan orang lain sebelum Aku mencerdaskan  buah hatiku.  Ayah, Aku tak ingin seperti lilin.  Mampu menerangi ruangan yang sangat gelap, sedangkan dirinya habis terbakar.  Sungguh menyedihkan seperti itu Ayah.  Percayalah Ayah,  akan Aku buktikan bahwa Aku mampu menjadi istri yang sholeha yang bisa menjadi mitra kesurga untuk suamiku,  Aku akan bertambah dewasa dengan menikah. Ayah, aku tidak suka seperti kebanyakan orang bilang, jika  telah menikah maka ucapkan “Selamat datang Masalah”. Ayah, sebenarnya dengan masalah itulah akan bertambah dewasa. Tapi, sekarang seakan-akan menikah itu adalah masalah besar, maka sugesti itulah yang akan terprogram dipikiran bawah sadar kita Ayah.  Sehingga nikah  benar-benar merupakan  masalah besar, karena Allah menjadikan kita seperti apa yang kita pikirkan. Jika kita berpikir menikah  akan mendatangkan masalah, maka yakinlah   yang akan datang itu adalah masalah-masalah!.

Ayah.
Apa engkau masih ragu dengan keputusanku? , Khawatir dengan kuliahku?
Ayah, bagiku itu bukanlah masalah!  Masalah itu ada dalam diri  sendiri,   berupa kecemasan, kekhawatiran,  ketakutan, itulah masalah yang terbesar Ayah. Ayah, jujur. Aku tak ingin kejadian Ayah dan Ibu terulang kembali, mempunyai keturunan di usia  puncak ke 20 tahun setelah menikah. Aku ingin mempunyai anak   ketika usiaku masih muda,  sehingga Aku berharap bisa membimbingnya sampai mereka benar-benar siap untuk dilepas.

Ayah, …
Aku kuliah bukan untuk menjadi wanita karier yang jarang dirumah karena banyak urusan, bukan juga ingin menjadi wanita penting, atau juga bukan ingin menjadi wanita nomor satu, bahkan bukan juga ingin menjadi wanita yang selalu keluar negeri. Tapi, aku kuliah hanya sebagai  persiapan ilmu untuk mendidik mujahid-mujahid yang tengah kunantikan. Mempersiapkan metode pembelajaran pada zaman super  modern yang akan datang. Karena aku ingin menjadi madrasah sejati untuk  Mujahid-mujahid sejati.
Kau tahu Ayah, Sabda Rasulullah:

“Dunia dan seisinya adalah kesenangan. Dan sebaik-baik kesenangan adalah  istri yang sholeha”.

Berarti Ayah, wanita dan istri yang sholeha itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Salahkah jika cita-citaku hanya ingin menjadi Istri yang Sholeha?

Ayah,…

Aku tak mau seperti orang-orang yang selalu mengutamakan studinya, sudah tua belum juga menikah, entah apalah alasannya. Mungkin karena terlalu banyak pilihan ataupun terlalu banyak yang dipilih.  Ayah, jika Aku meninggal dalam keadaan belum menikah, maka Aku akan menjadi seburuk-buruknya mayyit.

Ayah,
Maukah engkau membaca surat cinta untuk calon Mujahidku? Aku membuat surat itu beberapa bulan yang lalu Ayah. Dan Ayah, aku juga telah mempersiapkan surat cinta untuk suamiku. Ayah maukan membacanya?

UNTUKMU CAlON MUJAHIDKU

Mujahid Kecilku, ….
beberapa tahun sebelum kehadiranmu, Aku  mulai merindukanmu. Memanage daya khayal yang penuh imajinasi,  wajahmu yang polos, putih kemerah-merahan, memanggilku dengan sebutan Ummi…

Mujahid Kecilku, …..
Sebelum kehadiranmu, ada si kecil yang memanggilku dengan sebutan Mama…
Mama…!
Mama….!
Suara polosnya  membuatku menciptakan   frame  sederhana tentangmu. Rasa lelah ku, rasa letihku, wajah kusam ku, sirna ketika dia menyambut kepulanganku dengan sebutan mama…
Sambil berlari-lari kecil  disertai tawa naturalnya, si kecil itu memeluk kakiku dari belakang.

Dengan sedikit rasa lelah,  ku ambil dan ku dekap dengan  hangat

Mujahid Kecilku….
Aku membayangkan jika si kecil itu adalah kau. Ku ajari  kau memanggilku ummi,
sekali lagi U-eM-eM-I. Dan kemudian, kau akan terbata sambil berkata  “Ummi ajari Aku membaca”.  Ku ambil  sebuah kitab di sebuah meja tertinggi di kamarku, dengan suara yang halus sambil tersenyum akan Aku kenalkan  tentang kitab itu.

Mujahid Kecilku….
Ini adalah Al-Qur’an, Ummi akan mengajarimu  membaca al-quran.
Mujahid Kecilku….al-qur’an merupakan kitab suci umat islam. Dan kita terlahir sebagai orang islam, jadi kita wajib membacanya. Ummi sangat mencintai Allah dan Rasulnya, karena ummi mencintai mereka, jadi ummi  menjalankan perintah-Nya.  Salah satunya membaca Al-qur’an.
Kemudian kau langsung  menyela “Ummi ajari Aku tentang islam”, Aku mengangkatmu dan meletakkan mu di pangkuanku sambil  tersenyum dan  mencuilkan ujung telunjukku kehidungmu, “Tentu sayang”.

Mujahid Kecilku …
Islam berarti damai dan kasih sayang, islam itu  mengajarkan perdamaian dan kasih sayang bagi umat manusia tanpa memandang status apapun.  Dan islam juga berarti selamat, islam  merupakan petunjuk untuk memperoleh keselamatan hidup  baik di dunia maupun di akhirat kelak. Itulah sebabnya sayang,  salam islam adalah Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (semoga Allah melimpahkan  keselamatan dan kesejahteraann-Nya padamu).

Mujahid Kecilku…
Ummi  akan selalu mengenalkanmu dengan islam. Kamu, Ummi dan Abi akan  hidup bersama islam. Nanti, jika amal ibadah kita baik, maka kita akan bersama lagi di “Surga”.
Selanjutnya, kau langsung berlari kekamarmu dan segera mengambil buku tentang islam yang ku belikan untuk mu, kemudian menunjukkan cover buku itu kepadaku, “Ummi, Aku suka gambar dibuku ini”.
Gambar dibuku itu, tak lain adalah gambar seorang anak kecil yang menggunakan jilbab dengan sisi kiri dan kanan di dampingi Ayah dan ibunya sambil  mengajari si kecil itu membaca .

Mujahid Kecilku….
Kau akan terkagum-kagum mendengarkan penjelasan tentang islam. Hingga suara khas mu meletuk kembali “Ummi Aku ingin masuk surga, ajari Aku bagaimana  pergi kesana, ajari Aku tentang surga Ummi??” . dengan nada manja sambil menggenggam jemariku, kau memintaku untuk  memberitahumu tentang surga. Aku tersenyum  sambil mengedipkan mata sebelah kiriku “iya cinta”.

Mujahid Kecilku…
Surga adalah   tempat di alam akhirat  yang penuh dengan keselamatan, kedamaian, segala kesenangan  dan kenikmatan, kebahagian serta kemuliaan  yang abadi.  Allah menjanjikan tempat ini  bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.
 Di dalam Al-Quran yang ummi jelaskan tadi, ada  ayat yang  artinya  “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan sholeh, kelak akan kami masukkan kedalam surga yang mengalir dibwahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selamanya (Q.S An-Nisa :122”).

Dan disurga itu didalamnya terdapat  buah-buahan yang tiada habisnya dan tidak dilarang mengambilnya, terdapat pula istana yang mengalir sungai dibawahnya,  ranjang-ranjang yang terbuat dari emas atau permata,  dengan kasur yang tebal dan empuk, bantal  sandaran yang tersusun.
Mujahid Kecilku, disurga juga mengalir sungai minuman  yang lezat rasanya, dan sungai-sungai madu yang di saring. Di surga tiada perkataan yang tak berguna, Mujahid Kecilku.

Kemudian engkau akan berkata “Ummi, mendekatlah kepada ku, Aku ingin menciummu”. Maka kaupun menciumku. Kemudian kau berkata lagi: "Aku ingin mencium pipi Ummi yang kedua ." Akupun mendekat kepadamu, dan kau menciumku lagi.

Setelah itu, kau akan  memelukku dengan erat, dan enggan  berpisah denganku sambil berkata “Ummi Aku ingin menjadi seorang Hafizd/Hafidzah seperti Abi”, Aku  tersenyum dengan  mata yang berkaca sambil membalas hangatnya pelukanmu, “tentu Mujahid Kecilku, ummi akan selalu mendukungmu”. Dengan semangatmu, kau juga akan berkata “Ummi, ajari Aku keistimewaan menghafal Al-qur’an”. Kemudian  pertanyaan yang ini, di jawab oleh abi mu, “Pasti sayang”.

Mujahid Kecilku…, ada banyak keistimewaan jika kita dapat menghafal Al-Quran, yang pertama Jasadnya utuh didalam kubur,  yang kedua  di hari kiamat nanti dia akan bercahaya, orang yang hafal al-quran juga akan memberikan  mahkota dan pakaian sutra kepada kedua orang tuanya, dia juga bisa menjamin 10 saudaranya masuk surga dan derajatnya tinggi didunia dan di akhirat.

Mujahid Kecilku…., tadi  itu adalah keistimewaan menghafal al-Quran yang telah dijelaskan abi.
Sekarang, saatnya kau pergi tidur, hari esok ummi  akan mengajarimu tentang islam sepenuhnya untukmu.

Mujahid Kecilku…
Allah akan mempertemukan kita, bersiaplah. Aku  akan mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiranmu, dan  membuat surat ini menjadi nyata. Dekapan nyata, senyuman nyata, dan lantunan seorang hafidz/hafidzah yang nyata. Insya Allah semua akan menjadi nyata.  
Luv u cz Allah.Amin..Ayah, Aku berharap surat ini benar-benar menjadi nyata.  Seperti mentari pagi bersinar  setelah habis waktu malamnya. Yakinlah Ayah, dengan menikah Aku akan dewasa,, dengan menikah Aku akan pintar, dengan menikah Aku akan bisa memasak seutuhnya. Disanalah proses pembelajaran yang paling sempurna Ayah.
Aku tak perduli seberapa banyak orang yang mencemoohku,  seberapa banyak  yang mengatakan Aku egois,  seberapa banyak  mereka mengatakan Aku bodoh,  selagi itu masih perkataan manusia, tidak masalah Ayah! Sedangkan menikah, itu jelas-jelas Allah yang berbicara. Maka,  yang manakah yang pantas Aku takutkan??

Ayah,,

Demi Allah, Aku ingin menikah muda.  Aku berharap engkau mengizinkanku dan memberikan restumu.
Vira Al-Jannah

*****
Setelah Ayah membaca surat itu,  tak tahan jika Ayah harus menahan rasa bersalah dan tangisnya.  Sedangkan kakak sudah satu minggu berada diruang ICU, Ayah yang selalu menemani Kak Vira jika matahari  mulai menyembunyikan cahayanya.  Malam itu, Aku memperhatikan Ayah. Ayah memeriksa   tas Kakak  yang dibawah Ibu dan letakkan diujung kepadalanya.  Didalam tas itu, Ayah menemukan   berkas-berkas kuliah, serta terseliplah  beberapa lembar kertas yang judul diatasnya “AYAH, IZINKAN AKU MENIKAH”.
Berlahan, Ayah langsung membuka lembaran demi lembaran  catatan itu, berdiri kemudian duduk di samping Kak Vira. Ayah, memperhatikan tiap-tiap kata yang ditulis Kakak dengan fokusnya.  Baru kali ini Aku melihat Ayah menumpahkan air matanya begitu dalam.

Tuhan..

Seandainya Aku tahu lebih lama bahwa putriku ingin sekali menikah, sudah lama Aku ingin menikahkannya.
Vira, semula Ayah pikir   kau tak ingin menikah muda nak. Ayah benar-benar salah, mengapa tidak sejak lama Ayah mengetahui kalau kamu ingin menikah muda. Dan mengapa kau tak bicara sama Ayah bahwa kau sudah siap untuk menikah? Padahal, Ayah pernah ingin mengenalkanmu dengan pemuda sholeh yang Ayah kenal.
Ayah menggenggam erat tangan Kakak yang belum juga sadarkan diri,  Ayah memandangi  wajah kakak yang kelihatan sangat putih, ya putihnya orang sakit.  Sesekali Ayah mencium kening kakak,  dan meneteskan beningan matanya ke pipi putih kakak. Tak banyak yang dapat Ayah lakukan,   menikahkan kakak dengan keadaan seperti sekarang adalah suatu yang tidak mungkin.  Terkadang, Aku melihat Kak Vira juga mengeluarkan air matanya.  Entah apa Kak Vira  bisa mendengar, apa menangis karena rasa sakit ataukah menangis karena mendengar  perkataan Ayah.  Aku tidak tahu, sedari tadi Aku memperhatikan tingkah Ayah terhadap kakak.

Ketika Ayah masih dalam keadaan menggenggam erat tangan kakak,  dengan tetesan  yang membuatku juga menangis.  Aku melihat Kak  Vira ikut menangis. Aku yakin, Kak Vira mendengar semua perkataan Ayah.  Kemudian Ayah menyadari bahwa Kakak ikut menangis, Ayah langsung memanggil nama Kakak berulang kali, tapi Kakak juga belum sadarkan diri. Ayah juga berulang kali berbicara dengan Kak Vira, tapi Kakak belum juga membuka kelopak matanya.  Aku pada waktu itu baru berumur 7 tahun, hanya bisa memandangi  Ayah dan Kakak dari  jendela kaca ruangan itu.  Aku terus memandangi Kakak dalam-dalam.

Tak lama tangan kakak mulai membalas genggaman tangan Ayah,  Ayah tersentak dan terdiam sambil memperhatikan wajah pucat Kakak.
“Ayo, anakku! Bukalah matamu. Ayah ingin mengatakan bahwa Ayah merestuimu menikah”
Kakak berusaha membuka matanya, jika ku perhatikan sangatlah berat sekali. Tangan erat Kakak terus menggenggam tangan Ayah, seakan tak ingin melepasnya.  Beningan terus mengalir di pipi putih Kak Vira,  dengan berlahan dan nada bicara yang masih bergetar,:
“Ayah, ternyata Aku masih bisa bicara padamu Ayah.  Aku rindu sekali,  rindu sekali Ayah.  Bolehkah Aku memelukmu Ayah?”
“Tentu sayang”
Ayah langsung memeluk Kak Vira dengan eratnya.
“Ya tuhan,  Aku ingin dapat bersama anakku selamanya.  Aku berharap  pelukan ini bukan pelukan pertama dan yang terakhir” bicara Ayah dalam hati.
“Ayah, didalam tidurku Aku bermimpi.  Kalau Ayah mengizinkan dan merestuiku untuk menikah. Benarkah Ayah?  Ucap Kakak masih dalam dekapan Ayah.
“Iya sayang,  sebenarnya sudah lama Ayah ingin memintamu untuk menikah.  Tapi, Ayah takut Vira belum siap.  Maaf kan Ayah” balas Ayah
“Ayah, Vira akan segera menikah.  Vira hanya meminta doa restumu.  Setelah ini Vira akan menikah Ayah, kau merestui Vira kan Ayah?
“Iya sayang,  menikahlah.  Sekarang Vira benar-benar telah dewasa, Ayah takkan pernah menghalangimu.

Aku  selalu memperhatikan Ayah dan Kakak. Ayah selalu berbicara dengan Kakak. Ayah tak sadar,  bahwa Kakak tak dapat lagi mendengar  suara Ayah ketika Kakak mengucapkan terima kasih kepada Ayah, karena telah merestuinya. Ketika itu Aku terus memperhatikan Kakak, Kakak lemas dan kemudian matanya tertutup berlahan.  Ya, Aku tahu Kakak sudah tak dapat lagi mendengar Ayah.  Kakak sudah pergi, Kakak hanya meminta restu Ayah. Aku hanya  termenung dan terdiam sambil memandangi Kakak  yang tak sempat lagi memberikan senyum terakhirnya untukku.
Ya Robb,  berikanlah jodoh kakak di surga-Mu.


*****

Kejadian 11 tahun lalu mengingatkanku dengan Kak Vira.  Dan hari ini adalah hari pernikahanku, dengan umurku sama seperti umur Kakak ketika meminta izin dengan Ayah, yaitu 18 tahun.

“Kakak, kau pasti tau kan hari ini Aku akan menikah. Aku  ingin menjalankan keinginan Kakak yang belum sempat terpenuhi. Hari ini Aku juga berumur 18 tahun Kak. Aku berharap bisa menjadi seperti yang Kakak inginkan, menjadi seorang Anak, seorang Istri serta seorang Ibu yang sholeha,  seperti isi surat Kakak terhadap Ayah.  Surat itu selalu  ku simpan Kak. Surat itu juga yang menjadi motivasiku untuk menikah muda. Dan sebentar lagi akad akan segera dilaksanakan, mohon doa restumu Kak”. Pintaku sambil memandangi dan mengingat-ingat kembali kejadian 11 tahun lalu.

“Kakak, luv yu cz Allah, Uhibbukifillah.”


14 komentar:

  1. muda banget ya 18 tahun. kalau ditinjau dari medis, masi sangat rentan hehe tapi namanya juga fiksi yaa.

    btw pas lihat fotonya, mirip sama temen kuliah sha! hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, namanya juga fiksi. hihi
      tapi jangan salah loh, klo orang jaman dlu nikahnya pada muda-muda.

      Hapus
  2. masya allah, salut sama yang berani nikah muda. Aisya juga menikah muda alhamdulillah rumahtangganya luar biasa..

    BalasHapus
  3. Terharu bacanyaaa mbaaak. . Salut yg punya keinginan untuk menikah mudah. Sudah punya niat yg kuat untuk menyempurnakan agamaa. :) Tfs mbaak . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hihihi
      aku dlu juga kepengen nikah muda. cuma nggak kesampaian. akhirnya aku nikah di umur 24. gak muda lagi tu..

      Hapus
  4. Yokk nikah muda, tapi hehehe

    BalasHapus
  5. Nenek saya dulu malah umur 11 tahun udah dinikahkan ����, "btw okelah, saya ijinkan nak" ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emng orng jaman dlu rata2 nikah muda, mertuaku aja nikah umur 14 tahun. Tuaan sesikit dari neneknya jalan2kitodotkom. Haha

      Hapus
  6. Balasan
    1. Nikahlah pak, tinggal pilih ajo..haha

      Hapus
  7. Ayah...carikan aku jodoh agar bisa menikah....wkwkwkwk

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di Blog saya, jangan lupa kembali kesini lagi ya.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Blogger Bengkulu

b
>

Kumpulan Emak Blogger