Rabu, 10 Mei 2017

Dimataku, SUAMIKU SEMPURNA




Setelah wisuda, aku diminta Ayahku untuk segera menikah. Menurut beliau, umurku telah cukup dewasa untuk mengarungi rumah tangga, ditambah lagi dengan pekerjaan tetapku. Tapi, aku  masih ragu dengan pikiranku. Terlalu tinggi criteria  suami yang aku inginkan. Mungkin karena aku menganggap kalau aku termasuk orang yang sukses, jadi aku  ingin mencari orang yang lebih sukses dariku.
Sebulan setelah itu, ada laki-laki yang ingin melamarku melalui murobbiku. Secara spiritual, tak ada alasan untuk aku menolak. Tapi, yang ada dipikiranku aku tak ingin derajat suamiku lebih rendah dariku. Berulang kali murobbiku meyakinkanku, agar aku tak mengutamakan  kesenangan dunia.  Tak jarang aku memberontak dengan pikiran sendiri,
“Ya tuhan, mengapa pikiran ini  tak pernah lepas?”.
Aku berusaha menerima  laki-laki itu untuk menjadi suamiku. Ku posisikan diriku laksana orang yang paling bahagia disaat pernikahanku. Aku tak tahu apakah aku membohongi banyak orang, tapi yang pasti aku telah membohongi diriku sendiri.  Aku selalu bersikap manis didepan suamiku, seolah-olah berbakti padanya. Suamiku begitu sabar menghadapiku, dan sangat menyayangiku. Tapi, pikiran bawah sadarku tetap memberontak, bahwa derajat dia lebih rendah dariku.  Itulah yang terkadang membuatku  tak sanggup lagi dengan rumah tangga yang penuh rekayasaku sendiri. Mungkin, karena targetku sebulan setelah menikah aku ingin membeli mobil dengan gajiku dan gaji suamiku beserta semua tabungan yang sejak lama aku kumpulkan. Tapi, jangankan membeli mobil, membangun rumahpun belum bisa  secepat itu jika mengandalkan gaji suamiku. Karena suamiku hanya seorang PNS, yang gajinya lebih kecil dari gajiku.
Seminggu setelah menikahpun aku masih mengulas kembali alasanku menerima lamarannya, mengapa aku menerimanya?
“Ya tuhan, jangan biarkan setan mengaduk-aduk pikiranku, jangan biarkan aku melakukan hal yang terburuk”.
Berulang kali kucurhatkan perasaanku lewat doa-doa dalam sholatku. Tak jarang aku ditemui suamiku dalam keadaan menangis.
Sekarang aku bukan lagi menyesal dengan keputusan memilihnya sebagai suami, tapi aku selalu memberontak dengan pikiran duniawiku yang membuat aku tak seutuhnya mencintai, mempersempit gerak ku untuk memperhatikan suamiku.
Suamiku sungguh luar biasa, dia selalu memberikan kejutan-kejutan untukku, dia terlalu baik untuk wanita sepertiku, dia seolah tahu semua seluk-belukku, dia ingat semua hal yang dibicarakan saat perkenalan sebelum memutuskan untuk menikah. Berbeda denganku, aku sama sekali tak ada yang ingat apa saja yang ia senangi. Malah terkadang aku memasak apa yang ia tidak sukai yang bisa mencelakakan kesehatannya. Tapi, suamiku tetap memakan masakanku yang sama sekali tak ia sukai dan ia tetap melontarkan pujiannya terhadapku.
Suatu hari, suamiku tak pulang seperti biasanya. Aku mencoba mencari hal-hal yang bisa membuatku mencintainya. Ku periksa semua hal pribadi suamiku, termasuk laci tempatnya meletakkan semua berkas-berkas pekerjaannya. Kutemukan sebuah buku agenda punya suamiku, kubaca sampai tak ada yang ketinggalan. Ternyata suamiku sejak awal sudah curiga dengan sikapku, sampai ia mencatat semua apa yang aku lakukan dan apa yang ia lakukan.
Hari pertama pernikahan : kulihat wajahnya murung ketika tak ada tamu
Hari kedua :kutemukan ia sedang menangis dalam doanya
Hari ketiga : ia tak mengantarkanku sampai depan pintu ketika aku akan pergi bekerja
Hari keemat : istriku  cuek
Hari kelima : masakannya membuat dadaku terasa sakit
Keenam, ketujuh, dll.
Tapi, meskipun istriku demikian aku sangat mencintainya. Semoga aku bisa meraih cintanya, dengan pertolongan-Mu.
Suamiku mencatat semua hal aneh yang ada padaku, aku hanya bisa menangis membaca buku agendanya. Semula kukira suamiku tak pernah curiga dengan sikapku, ternyata sejak awal aku sudah tak mampu bersandiwara dengan sempurna.
Kubuka kembali lembaran berikutnya yang berisi catatannya memberikanku kejutan setiap harinya.
          Hari pertama pernikahan : Merayunya dengan puisi yang telah aku persiapkan
          Hari kedua : Memberikan pujian atas masakannya
          Hari ketiga : Membelikan boneka kesukaannya
          Hari keempat : Bangun lebih awal darinya dan membuatkan sarapan
          Hari kelima, keenam, ketujuh, dlll.

“Ya tuhan, apa yang telah aku perbuat terhadap suamiku yang begitu mencintaiku? Aku tak lebih dari seorang yang tidak mengetahui agama. Meski aku mengibarkan jilbab yang lebih dari standar.
Suamiku memang setiap hari memberiku kejutan, kado-kado yang aku sukai. Meskipun aku senang, namun  tak 100%. Pada hari ke 10 pernikahan kami, ia memberiku sebuah buku yang ia bungkus dengan warna kesukaanku. Ia memberikan itu disaat kami sedang berada dalam ruangan yang biasanya kami gunakan untuk sholat. Setelah sholat ia memberikan kado itu.
“Sayang, ini hadiah untukmu hari ini”
Aku menerimanya dengan ekspresi biasa saja, menurutku tak ada yang istimewa dengan suamiku. Setelah itu ia pergi ke ruang tempat ia meletakkan semua berkas kantornya.
Kubuka kadonya dengan berlahan, kutemukan foto Asmanadia di cover buku yang judulnya sakinah bersamamu. Di covernyapun aku telah menemukan sebuah kalimat yang membuatku langsung menumpahkan  jeritan hatiku dengan cairan yang tak dapat aku tahan.
          Cinta bukanlah mencari pasangan sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna

Ku peluk buku itu dalam linangan air mata. Kusembunyikan diriku dari pandangan suamiku. Kubuat seolah-olah diriku tak separah ini sedihnya jika dihadapan suamiku. Kalimat dari Asma Nadia mampu nenusuk batinku yang tak dapat menerima suamiku dengan sempurna. Bagaimana mungkin aku menuntut suamiku mengikuti akhlak dan kehebatan  Rasulullah jika aku tak mengikuti akhlak dan kehebatan Khadijah.
Kalimat awal dibuku itu  merubah pola pikirku terhadap suamiku. Tuhan, aku ingin mencintai suamiku sepenuhnya karena-Mu.
Tak ada kesuksesan yang terindah kecuali kesuksesan menjalani rumah tangga dengan Ridho-Mu. Ampunilah semua kesalahanku Ya Robb.  Semoga aku bisa menjadikan keluargaku adalah surgaku.

2 komentar:

  1. ceritanya bagus Mir, suka :)
    menyentuh

    BalasHapus
  2. hihihi...tulisan yng ini udah pernah dibukukan say....

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di Blog saya, jangan lupa kembali kesini lagi ya.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Blogger Bengkulu

b
>

Kumpulan Emak Blogger